Baru Kerja? Mulai pikirkan dana pensiun

12501930_1724088641144117_2144342178_n

Di umur 20- dan 30-an, janggal rasanya untuk mulai memikirkan dan menyiapkan hari tua. Sering umur 65 masih terasa jauh sekali. Baru dapat kerja, mulai hidup mandiri, muncul rasa ingin menikmati hidup sepuas-puasnya. Wajar saja. Kalau kata ayah saya, setiap orang pasti inginnya waktu kecil bahagia, masih muda foya-foya, sudah tua kaya raya.

Tapi di sini saya ingin memulai pembicaraan tentang pentingnya mulai memikirkan dana pensiun sedini mungkin. Ketika kita masih muda. Masih banyak energi untuk berkarir dan mencari rezeki. Untuk kami sendiri, ada beberapa alasan kenapa kami ingin mulai memikirkan pensiun secepat mungkin, diusia kami yang masih produktif.

Tapi tentunya kapasitas orang berbeda-beda untuk mulai tahap ini. Dan untuk saya tidak ada formula paling benar. Banyak orang yang tidak bisa memulai menyiapkan dana pensiun karena tuntutan hidup yang tidak memungkinkan. Tapi sering juga kita tidak menyiapkan karena tidak tahu pentingnya tabungan masa tua atau tidak bisa menahan diri untuk menghambur-hamburkan uang untuk kesenangan jangka pendek.

Ini beberapa alasannya kenapa menurut kami menyiapkan masa tua itu sangat penting:

1.Memberikan lebih banyak pilihan dan kontrol di hari tua

Masa tua itu tidak sepenuhnya menyenangkan. Sering manusia harus melewati hal-hal yang diluar kendalinya di masa tua. Contohnya, manula yang sakit kronis hilang kemampuannya untuk menjalani hidup sehari-hari tanpa rasa sakit. Dan sering kali tidak menyiapkan financial security di masa tua memberikan banyak kecemasan dan rasa hilang kendali untuk hidup kita sendiri. Ada kesamaan antara menyiapkan kesehatan fisik dan kesehatan finansial. Kalau kita ditanya, bagaimana supaya kita bisa hidup sehat dan kuat sampai tua, mungkin jawabannya mulai mengatur pola makan, olah raga, tidak merokok. Dan kebiasaan ini baiknya dimulai dari se-muda mungkin. Karena membutuhkan waktu yang panjang untuk menyiapkan kesehatan fisik yang optimal. Sama juga dengan kesehatan finansial. Beberapa kebiasaan yang perlu dimulai dari muda adalah hidup sederhana (biasakan pengeluaran lebih sedikit dari pemasukan), menabung, dan bertanggung jawab setiap akan mengambil keputusan finansial.

Walaupun mungkin ketika muda kita harus banyak melewatkan hal-hal yang menyenangkan demi menabung (contoh: beli mobil mewah, traveling, beli baju mahal), tapi menyiapkan dana pensiun akan memberikan lebih banyak kontrol dan pilihan ketika kita sudah tua. Mungkin kita jadi punya pilihan untuk pensiun di tempat yang kita idamkan seperti di pinggir pantai atau di pengunungan.

2.Tidak bergantung pada pemerintah – karena pemerintah belum tentu bisa digantungi

Salah satu alasan lainnya adalah supaya kita tidak perlu bergantung pada dana tunjangan dari pemerintah. Terutama untuk para manula di negara berkembang seperti Indonesia, mungkin pemerintah juga belum sanggup untuk memberikan dana bantuan yang optimal untuk para orang tua. Jadi ada baiknya kita membantu pemerintah dengan belajar mandiri dan menyiapkan kebutuhan hari tua kita dari jauh hari. Syukur-syukur pemerintah semakin maju dan bisa menyediakan dana kesehatan dan pensiun bagi manula lebih baik lagi.

3.Tidak merepotkan anak dan keluarga

Sekarang, sebagai calon orang tua, kami semakin sadar pentingnya menyiapkan masa depan untuk anak. Bukan mengharapkan masa depan kami jadi tanggung jawab anak. Saya selalu ingat kata-kata ayah saya, “anak itu bukan investasi. Mereka punya masa depannya sendiri.”

Kalau menarik garis jauh kedepan, saya sudah bisa membayangkan, ketika saya umur 65, anak saya akan berusia 35 tahun. Masa-masa dimana dia baru akan memulai kehidupannya sendiri. Masa itu ia akan mulai memikirkan sekolah anak-anaknya, mungkin menyiapkan rumah, membangun karir, dan menyelesaikan tanggung jawab besar dihidupnya sendiri. Jadi rasanya tidak adil kalo kami juga membebankan kehidupannya di atas semua tanggung jawab lain yang sudah harus ia jalankan.

Itu yang semakin memotivasi kami untuk mulai menyiapkan dana pensiun sedini mungkin. Supaya anak-anak kami nantinya tidak mendapat beban tanggung jawab yang terlalu besar: membesarkan anak mereka sendiri dan merawat orang tuanya.

Perlu dijelaskan bahwa saya bukan ingin mengkritik budaya timur dan ajaran kita tentang pentingnya anak untuk merawat orang tua. Saya rasa itu merupakan sesuatu yang baik, untuk anak selalu ingat pada orang tuanya, selalu memberikan perhatian, menjaga hubungan, dan membantu ketika mampu. Tapi untuk kami, membantu orang tua keputusannya ada ditangan anak, merupakan hak mereka, dan berdasarkan kemampuannya masing-masing. Karena ayah saya pernah bilang, kalau orang tua mewajibkan anak-anaknya untuk mengurus mereka ketika tua, itu namanya hidup mundur ke belakang. Anak kewajibannya membesarkan generasi selanjutnya. Itu baru hidup yang fokus ke depan. Tapi, ketika anak sanggup dan memutuskan untuk merawat orang tuanya di hari tua tentu itu merupakan keputusan yang mulia. Karena social connection adalah salah satu prediksi kebahagian yang paling kuat bagi kebanyakan manusia.

Di tulisan lainnya, saya akan membahas strategi mulai membangun dana pensiun dari muda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s