Siap atau belum siap? Faktor-faktor yang dipikirkan sebelum memutuskan punya anak

logo-readyornot-fb

Setelah kami menikah, kami memutuskan untuk menunda punya anak untuk beberapa taun. Hal ini untuk budaya America sesuatu yang cukup biasa. Tapi yang saya rasakan ini masih sesuatu yang belum biasa atau bahkan taboo di budaya Indonesia. Sebenarnya – kalo menurut saya – tidak ada formula sempurnanya untuk kapan pasangan siap memiliki punya anak. Banyak faktor yang mempengaruhi keputusan pasangan seperti agama, keluarga, budaya, finansial, dan kesiapan mental.

Dan menurut saya, apapun dan jangka waktu seperti apa yang dipilih pasangan untuk memiliki anak, itu pasti pilihan terbaik yang sudah mereka pikirkan matang-matang. Yang mau saya bahas disini adalah faktor-faktor apa yang bisa jadi pertimbangan ketika pasangan ingin menunda untuk mempunyai anak. Karena menurut saya hal ini jarang sekali dibicarakan, tapi sering merupakan sebuah faktor yang valid.

Untuk jelasnya, banyak juga pasangan yang meskipun menghadapi alasan di bawah ini tetap bisa dengan sukses merencanakan punya anak dan menjadi orang tua yang optimal. Jadi tentu semuanya kembali lagi ke pasangan masing-masing.

1.Masih ingin menyelesaikan sekolah

Bisa jadi pasangan masih ingin meneruskan sekolahnya, baik S1, S2, atau S3 sehingga memutuskan untuk focus dulu pada pendidikan. Walaupun banyak yang sanggup punya anak sambil sekolah, untuk saya dan suami sendiri kamu memutuskan untuk saya fokus menyelesaikan S3 saya dulu sebelum kita memutuskan punya anak. Untuk kami pribadi, alesannya karena dibidang kesehatan seperti yang saya jalani, saya harus melewati residency training dimana saya tidak bisa memilih ditempatkan di lokasi mana di America. Mungkin kalau di Indonesia banyak dokter-dokter yang harus di tempatkan ke daerah-daerah sebagai syarat pendidikan, sehingga agak sulit (tapi bukan tidak mungkin) kalau harus memboyong anak dan keluarga.

2.Masih ingin membahagiakan orang tua

Mungkin beberapa orang masih ingin fokus untuk membahagiakan orang tua masing-masing sebelum siap memikirkan punya anak. Mumpung orang tua masih sehat, mungkin beberapa ingin membawa orang tua jalan-jalan dulu atau memastikan bahwa bisa ikut membantu biaya pengobatan orang tuanya.

3.Masih ingin mengenal satu sama lain

Masih ingin traveling, belajar lebih dewasa, mengenal kekurangan dan kelebihan masing-masing. Menurut saya ini alasan yang cukup valid. Riset oleh John Gottman menunjukan bahwa anak yang dibesarkan oleh orang tua yang saling menyayangi, yang mempunyai hubungan yang kuat dengan satu sama lain tumbuh menjadi anak yang lebih sukses secara akademis dan lebih tidak bermasalah secara perilaku. Jadi keinginan pasangan untuk menjalin hubungan yang romantis, kuat, saling mendukung selagi menyiapkan punya anak merupakan hal yang sangat penting.

4.Masih menyiapkan keuangan keluarga

Menurut saya ini salah satu alasan yang sering mendapat attack dari lingkungan. Ketika pasangan ditanya, “kapan punya anak?” dan jawab “masih belum siap nih secara keuangan” jawaban yang sering saya dengar adalah “gak boleh gitu, anak sudah membawa rezekinya masing-masing”. Di sini saya tidak ingin berargumen mana yang benar dan mana yang salah. Di satu sisi saya sangat-sangat percaya bahwa anak memang membawa rezekinya masing-masing. Di sisi lain, saya juga yakin bahwa orang tua mempunyai tanggung jawab yang besar untuk menyiapkan financial security sebelum membawa anak ke dunia. Kadang memang ada situasi dimana secara praktis pasangan belum siap. Mungkin kalau punya anak dengan situasi finansial saat ini, pemasukan dan pengeluarannya akan tidak balance. Apakah ada kemungkinan rezeki akan datang? Tentu saja. Tapi tidak semua orang berani untuk langsung mengambil resiko ini. Jadi saya bisa sangat mengerti kalau ada pasangan yang menunda karena merasa belum siap secara finansial.

5.Masih ingin mengembangkan karir

Ini juga alasan yang bisa jadi cukup valid. Mungkin ada beberapa perkerjaan yang menuntut untuk banyak traveling, jam kerja yang kurang family friendly atau alasan lainnya. Tapi karir juga sebuah bagian hidup yang penting untuk banyak orang. Jadi untuk saya sah-sah saja kalau pasangan menunda punya anak karena masih ingin mengembangkan karirnya.

Saya yakin masih ada banyak alasan lain yang tidak saya tuliskan di sini. Dan bisa jadi pasangan juga memutuskan untuk tidak punya anak karena itu bukan tujuan hidup mereka. Tidak ada yang benar atau salah. Setiap orang sudah punya pemikiran masing-masing yang sesuai dengan goals dan values mereka. Menurut saya, tugas kita adalah untuk:

  • Mengerti apa yang sejalan dengan prinsip hidup dan cita-cita kita
  • Tidak menilai buruk pilihan orang lain dan alasannya terutama ketika tidak sama dengan pilihan kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s