Kumpulkan memori bukan barang

8933782bdbd1b1f6782fe6c4b15e74cb

Saat ini, budaya hedonism dan materialistik bisa dirasakan hampir di setiap tikungan. Shopping mall ada di mana-mana baik di Jakarta atau di America. Hampir setiap saat ada saja sale-sale yang bermunculan. Kalau di sini mulai dari Labor Day Sale, 4th of July Sale, Memorial Day Sale dan jenis-jenis tawaran lainnya. Perhatikan, kalau kumpul di acara keluarga, sulit rasanya menghindari pembicaraan seputar barang-barang terbaru: sepatu merk tertentu, tas branded yang baru keluar, gadget paling canggih, handphone dengan camera terbagus.

Hal ini saya rasakan lebih lagi setelah kami hamil. Mendadak banyak sekali mendapat saran tentang barang yang HARUS kami siapkan buat si anak bayi ini. Botol susu paling canggih, ayunan bayi paling mahal, stroller paling enteng, mainan yang paling menstimulasi otak, baju bayi paling lucu, dan ratusan jenis-jenis barang lainnya yang harus kami beli. Jujur saja kadang antara memprioritaskan menyiapkan rumah, menyiapkan biaya sekolah dan kuliah anak, menyiapkan dana pensiun, kami sering kehilangan fokus dan napsu ingin menyiapkan barang-barang jangka pendek (baca: perlengkapan bayi) yang paling terbaik (dan mahal) – dan hasilnya mengalahkan tujuan-tujuan jangka panjang yang mutlak jauh lebih penting.

Tapi lalu saya berhenti dan berpikir. Apa sih yang sebenarnya paling dibutuhkan kami calon orang tua dan anak bayi seukuran rata-rata 8 pounds dan 20 inches? Saya langsung sepenuhnya sadar bahwa yang kami butuhkan adalah moments bukan things. Karena 10 tahun dari sekarang, yang akan paling kami ingat bukan jenis botol susu apa yang anak kami pakai, tapi perasaan membawa dia pertama kali ke rumah dari rumah sakit atau perasaan pertama kali kami kerja sama untuk menenangkan si bayi tengah malam.

Selama kehamilan ini, kami berusaha mempraktekan beberapa kebiasaan ini untuk memastikan bahwa kami tidak salah fokus – lebih memperhatikan hal-hal materialistis dibandingkan pengalaman sekali seumur hidup ini.

1. Menyiapkan keperluan dasar bayi sebaik mungkin setelah melakukan research yang cukup

baby_items

Katanya jangan mengumpulkan barang, tapi kok tips pertama langsung tentang membeli barang? Karena memang bayi juga ada keperluaanya, tidak bisa dihindarkan. Mereka perlu tempat untuk tidur, diapers, handuk mandi. Tapi yang perlu hati-hati, diluar sana dan banyak orang yang akan memberi saran apa yang paling “The Best” untuk setiap barang-barang ini. Mulai dari the best stroller of the year sampai the best bedong bayi.

Tentu normal untuk orang tua ingin menyiapkan yang terbaik untuk bayinya. Kalau kung bercandanya “Yah gak apa-apa lah anak pertama dibelikan kereta dorong kencana”. Dan mungkin untuk beberapa barang seperti carseat atau stroller boleh condong ke jenis yang kualitasnya lebih tinggi karena bisa untuk jangka panjang (untuk anak berikutnya). Tapi yang kami pertanyakan, apa memang perlu untuk lap gumoh yang paling the best of the year? Dengan harga yang tentu lebih mahal. Yah mungkin sekarang saya belum jadi orang tua jadi belum tau, tapi kalau saya pikir lebih penting bayi saya punya lap gumoh paling hip taun ini, atau ayah ibu yang sigap ketika anaknya gumoh?

Karena itu, research cukup penting untuk kami. Research barang apa saja yang memang basic necessities dan mana yang optional. Dan tentu list ini juga tentative, untuk beberapa orang tua, mungkin penghangat baby wipes merupakan kebutuhan pokok, tapi untuk orang tua lainnya (dan bayi lainnya) ini barang optional. Berikutnya memikirkan barang mana yang harus beli baru (e.g., carseat) dan mana yang bisa kami terima lungsuran dari teman yang sudah punya anak (e.g., baju bayi). Dengan melakukan riset dengan baik, bisa sangat membantuk menurunkan pengeluaran persiapan bayi yang pada dasarnya sudah cukup tinggi. Dan bisa mengembalikan fokus kita pada hal-hal jangka panjang yang jauh lebih penting seperti sekolah anak dan biaya asuransi jiwa.

2. Kumpulkan moment-moment kecil sehari-hari

19366385_10109992106031350_1728032034951904788_n

Kami sudah mempersiapkan bahwa setelah bayi ini lahir akan ada tenggang waktu dimana kita akan housebound, cuma bisa di rumah saja selama sekitar 4-6 minggu. Menariknya, post-partum depression dan anxiety juga sangat meningkat di waktu-waktu ini. Banyak moment-moment mengejutkan, menegangkan (dan tentunya beberapa juga positif) yang dihadapi orang-tua dan bayi. Dari pasien-pasien yang sudah saya tangani, akan mudah orang tua untuk “melarikan diri” dengan fokus pada hal-hal yang sifatnya lebih ke logistik. Contoh, fokus pada barang-barang yang perlu dibeli, apa yang kurang, apa yang belum kesampaian disiapkan. Ini semua normal dan bisa dipahami – karena memang banyak yang kebutuhan pokok. Tapi yang lebih sulit dipraktekan adalah menjalani, memahami, dan kalau bisa menikmati moment-moment kecil (tapi priceless) yang akan bermunculan.

Research sudah menunjukan bahwa kebahagiaan lebih banyak dipengaruhi oleh pengalaman, oleh moments in life, bukan oleh barang yang kita beli dan kumpulkan. Semenjak saya hamil, saya dan suami berusaha untuk mempraktekan kebiasaan-kebiasan kecil untuk kita bisa mengkoleksi moment sehari-hari yang meningkatkan quality of life kami.

  • Saya mulai (walaupun kadang sering perlu dipaksa) membiasakan saya dan suami punya “Cuddle Time”. Waktu di mana kita unplugged dari TV, laptop, handphone, dan segala elektronik lainnya, dan hanyak membicarakan betapa bersyukurnya kita dalam hidup. Kalau bisa tidak membicarakan masalah-masalah yang ada dan perlu diselesaikan, hanya hal-hal dan rezeki yang sudah kita dapat yang perlu disyukuri. Tidak perlu lama-lama, mungkin sekitar 15-20 menit setiap hari.
  • Jalan sore. Karena saya perlu olah raga juga untuk mempersiapkan melahirkan, saya dan suami membiasakan jalan sore setelah pulang kantor. Hanya di kompleks sekitar rumah saja. Biasanya ketika jalan sore ini, kita mulai membicarakan rencana-rencana jangka panjang, sekolah anak, dana pensiun, mempersiapkan rumah, dan target-target karir kami.
  • Luangkan waktu untuk teman dan keluarga. Saya mulai jauh lebih rutin untuk menelf papa mama saya, kung dan eninya anak kami. Supaya mereka juga involved dalam perkembangan anak kami dari sekarang. Yang lebih saya nikmati lagi, mengumpulkan tips-tips cara membesarkan anak. Karena tentu mereka ahlinya – karena mereka sudah membesarkan saya dan hasilnya tidak gagal-gagal banget kok, hehehe. Kung biasanya yang punya banyak nasihat tentang mengolah keuangan dengan benar, tentang mengajarkan hidup sederhana dan tidak gegabah, tentang values-values yang perlu ditanamkan pada anak sejak sekarang. Eni nya yang selalu mengingatkan tentang agama, tentang cara mengajarkan anak dalam urusan sekolah, tentang cara bersopan santun dan selalu membantu orang lain.

Masih ada praktek-praktek mengumpulkan moments lain yang sering kami lakukan (e.g., memasak bareng, hiking, mengunjungi tempat baru). Dan guess what kalo teman-teman lihat, hampir semuanya tidak memerlukan biaya ekstra sama sekali. Malah kebanyakan gratis 100%.

3. Berbagi pada orang yang lebih membutuhkan 

charities

Ketika sedang mempersiapkan kedatangan anak, wajar kalau orang tua fokus pada keluarga inti. Menomor satukan kebutuhan-kebutuhan dasar si anak. Dan kami sangat bersyukur, sejak saya hamil banyak sekali orang-orang di sekitar yang mulai pesan-pesan “nanti kita yang belikan ini yah” atau bertanya “masih butuh apa lagi?” Tentu kami sangat-sangat menghargai perhatian ini dan bersyukur banyak sekali yang perduli pada si anak bayi.

Tapi akhir-akhir ini saya sering mulai berpikir, ketika anak kami banyak yang memperhatikan, berapa banyak bayi di dunia ini yang tidak mendapatkan rezeki dan perhatian yang sama? Berapa banyak bayi yang tidak mempunyai selimut dan popok yang nyaman ketika lahir? Berapa banyak bayi yang tidak punya orang tua untuk menggendong mereka?

Ketika teman dan keluarga sekitar mulai bertanya, apa yang kami butuhkan, saya pelan-pelan mulai menjelaskan bahwa kami bersyukur yang kami butuhkan kebanyakan sudah ada. Tapi kalau teman-teman dan keluarga punya rezeki tambahan, kami dengan senang hati bisa menyalurkan barang-barang bayi itu ke yayasan atau organisasi yang membantu anak-anak yang kurang beruntung. Benar-benar bukan kami ingin sombong atau menolak pemberian, tapi ada beberapa alasan penting yang ingin kami ajarkan kepada si anak bayi ini:

  • Kami ingin mengajarkan bahwa yang paling penting dia terima dari keluarga dan teman-teman disekitarnya adalah perhatian, kasih sayang, dan waktu. Moments dengan merekalah yang akan dia ingat ketika dia dewasa, bukan barang apa yang mereka beri.
  • Saya tidak ingin mengajarkan ke anak kami bahwa inti dari hubungan dengan orang-orang terdekat adalah mendapatkan perhatian melalui “menerima barang”. Dia akan sudah berkembang di dunia dimana materialisme dan hedonism ada di setiap tempat dan waktu. Sebagai orang tua, kami ingin “mengontrol” bahwa setidaknya dalam hubungan orang terdekat, tidak hanya melulu membicarakan barang-barang terbaik, termahal, dan paling hip.
  • Kami ingin mengajarkan ke si bayi ini dari sedini mungkin untuk melihat ke bawah. Melihat anak-anak lain yang tidak seberuntung dirinya. Dan mulai menanamkan rasa ingin berbagi.

Kenapa? Karena research sudah menunjukan bahwa membantu orang lain yang sedang kesulitan itu berhubungan dengan meningkatnya rasa bahagia, umur panjang, dan kesehatan.

Saran-saran lain dari teman-teman dan orang tua yang sudah jauh lebih berpengalaman untuk mengajarkan anak mengerti hidup sederhana dan apa yang paling penting dalam hidup tentunya sangat-sangat kami butuhkan dan hargai.

Happy Weekend!

-AJP-

One thought on “Kumpulkan memori bukan barang

  1. Minimalist living ya mba… collect experiences not things! Ini banget yang aku juga lagi coba jalanin.. skrg lebih picky kalo mau beli barang lebih mikir apa kebutuhan apa cuma impulsif saja.. hehe

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s