Contentment: Praktek Bersyukur

I_Am_Grateful

Akhir-akhir ini saya sering perhatiin beberapa kebiasaan buruk yang secara gak sadar sering saya dan suami lakukan. Karena sedang menyiapkan banyak hal untuk masa depan, sering banget otak dan pembicaraan kami penuh dengan “apa yang ingin dibeli” atau “apa yang kurang”. Beberapa contoh:

  • Sambil duduk-duduk di apartment yang baru kami tinggali 2 bulan, sudah membicarakan rumah seperti apa yang kami ingin beli.
  • Sambil duduk di restaurant yang baru kita coba, sudah buka Yelp untuk lihat restaurant lain apa yang ingin kita coba.
  • Sambil browsing di handphone atau laptop yang masih bekerja dengan okay, lihat-lihat gadget baru apa yang keluar.
  • Pakai baju yang masih bagus dan belum lama dibeli, sudah jalan di mall lihat-lihat baju baru yang ingin di beli.
  • Sambil nyetir, liat-liat mobil yang nantinya pengen dibeli.

Wow, speaking about discontentment. Saya jadi mikir, apa kebiasaan ini yang ingin kami ajarkan ke anak kami nantinya? Pembicaraan seputar… beli, beli, beli… atau ingin, ingin, ingin?

Saya jadi pelan-pelan memikirkan tentang lawan dari discontentment. Bagaimana caranya merasa cukup? Mensyukuri detik ini. Mensyukuri apa yang sudah kita punya saat ini. Untuk saya sendiri, sepertinya beberapa steps ini bisa membantu untuk lebih bersyukur dan merasa cukup:

Be in the present moment

Mindfulness. Perhatikan dengan terbuka apa yang sudah ada saat ini. Lihat barang-barang yang sudah kita punya. Lihat orang-orang kesayangan yang selalu ada di dekat kita. Lihat lingkungan dan alam yang sudah dengan gratis disediakan untuk kita. Rasakan makanan yang kita dapat hari ini. Perhatikan faktor-faktor kasat mata yang jarang kita perhatikan, seperti kesehatan, kemampuan berpikir, udara. Sering kali otak kita selalu sibuk fokus ke depan, memikirkan apa yang kita ingin punya nantinya. Tapi lupa untuk memperhatikan apa yang sudah ada dan berlimpah hari ini.

Practice gratitude – biasakan bersyukur

Ini bukan konsep baru atau aneh. Hampir setiap agama dan kepercayaan mengajarkan pentingnya bersyukur. Research juga sudah menunjukan kalau kebiasaan bersyukur berhubungan erat dengan well being dan emosi positif. Praktek bersyukur bisa dilakukan dalam hati, sambil dibahas dengan orang terdekat, ketika beribadah, atau ditulis.

Ketika kita ingin sesuatu – praktek memberi

Serakah itu gak muncul tiba-tiba. Biasanya ini faktor dari ketidaksengajaan. Karena kita selalu fokus dengan apa yang kita inginkan. Satu praktek yang bisa jadi antidote dari serakah adalah memberi. Disaat kita sedang napsu-napsunya ingin sesuatu, coba ke homeless shelter atau rumah sakit atau buka website-website charity. Lihat seberapa banyak orang yang jauh lebih membutuhkan bantuan kebutuhan dasar dibanding kita. Mungkin kita sedih dan merasa kekurangan karena tidak mampu membeli tas merk tertentu. Tapi ada jutaan anak yang sedih karena tidak bisa makan tiga kali sehari atau tidak bisa sekolah.

Setelah praktek tiga hal di atas, perhatikan level kebahagiaan 

Saran saya sih jangan main asal percaya aja sama yang saya bilang di atas. Coba di tes dengan pengalaman masing-masing. Apa dampak dari praktek tiga hal di atas pada level kebahagiaan kita? Apakah berkurang, bertambah, atau sama aja?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s