Pengeluaran Besar yang Sering Menghambat Financial Independence

Ada beberapa pengeluaran BESAR dalam hidup yang menurut saya pribadi salah satu penyebab banyak orang susah mencapai financial independence. Sayangnya, pengeluaran-pengeluaran besar ini sering dianggap sebagai sesuatu “keharusan”. Banyak yang menggunakan alasan “ini kan sekali dalam seumur hidup” atau “saya berhak dapet luxury ini Karena sudah kerja keras”.

Untuk klarifikasi, ini merupakan opini saya pribadi. Setiap orang berhak mengambil jalan hidupnya masing-masing. Rumus saya sih kalau mau menghabiskan uang untuk hal-hal dibawah ini, silahkan saja, asal: (1) Tidak berhutang; (2)Tidak menimbulkan lebih banyak masalah jangka panjang; (3) Sudah memenuhi tanggung jawab pokok. Menariknya, banyak millionaire di America yang juga setuju dengan pendapat saya dan tidak menghabiskan uang untuk hal-hal di bawah ini, termasuk Warren Buffet.

  1. Kawinan

Wedding-Banner

This is honestly my biggest pet peeve. Di satu sisi saya bisa ngerti banyak sekali orang yang sudah menunggu-nunggu hari penting ini. Orang tua juga pastinya ingin bisa mengadakan acara kawinan yang paling baik buat anak-anaknya. Apalagi di Indonesia ada pendapat “Kawinan itu acaranya orang tua, bukan mempelai”. Tapi menurut saya pribadi, ini adalah salah satu pengeluaran yang SANGAT besar yang kadang sering tidak masuk akal.

Di America, biaya kawinan rata-rata berkisar sekitar $35,329. Dan sepertinya di Indonesia pun biayanya tidak jauh-jauh dari itu. Bahkan saya sering dengar kawinan bisa menghabiskan biaya ratusan juta rupiah, bahkan milyaran. Sekali lagi, saya bisa mengerti sekali kenapa kawinan sering di anggap penting – once in a life time moment. Dan ini tentunya hak pribadi masing-masing untuk memutuskan.

Yang saya ingin suguhkan adalah sebuah perspektif kenapa saya pikir menghabiskan biaya kawinan untuk 1 malam dengan alasan ingin menghormati tamu atau orang lain adalah sesuatu keputusan yang sangat beresiko tinggi. Ini alasannya:

  • Kalau kita pakai rata-rata $35,329 harga kawinan, jumlah ini bisa sangat cukup untuk membayar uang muka rumah 3 sampai 4 kamar dengan 2 kamar mandi di America. Biaya acara satu malam bisa digunakan oleh pasangan yang baru memulai hidupnya untuk membayar uang muka rumah – suatu asset jangka panjang yang berarti buat masa depan anak-anak.
  • $35,329 itu sebesar biaya kuliah untuk 1 tahun di America tahun 2016-2017. Bahkan biaya kuliah 1 tahun pun lebih murah sedikit, sekitar $33,480. Bayangkan kalau biaya acara 1 malam dialokasikan untuk membayar biaya pendidikan yang dampaknya jauh lebih untuk jangka panjang dan mungkin bisa memperbaiki hidup beberapa keturunan.
  • Kadang saya sering dengar pasangan muda yang sudah ingin punya anak tapi masih belum siap secara financial. Biaya kawinan satu malam itu sudah jauh dari cukup untuk menyiapkan anak pertama.
  • Coba pergi ke situs ini dan gunakan impact calculator mereka untuk tahu seberapa banyak orang yang bisa kita bantu dengan uang $35,329. Saya coba untuk Project Healthy Children. Dan dengan uang rata-rata kawinan 1 malam itu bisa memberi makanan sehat pada 135,880 anak UNTUK SATU TAHUN PENUH.

 

  1. Mobil Baru

Big-Purchases-Recommendations-

Mobil adalah salah satu asset yang value-nya akan turun. Tidak seperti tanah atau rumah yang bisa naik harganya, mobil hampir 100% akan turun harganya (kecuali mungkin untuk mobil-mobil klasik tertentu). Tapi di sisi lain, mobil juga salah satu status social yang paling didewakan oleh banyak orang. Keliatan sukses gitu kalo udah bisa nyetir mobil merk tertentu. Menurut saya sih sah-sah saja kalau ada yang bercita-cita dan rela mengeluarkan uang untuk membeli mobil mewah. Itu balik ke orangnya masing-masing. Yang ada hanya consequences. Kalau bisa beli mobil mewah dengan cash dan udah zakat, udah beli rumah, pendidikan anak udah keurus, kesehatan udah di cover, menurut saya gak masalah menyenangkan diri. Yang sering jadi masalah adalah beberapa orang membeli mobil yang harganya lebih dari setengah gaji mereka per-tahun. Jadi kalau gajinya sekitar $40,000 per tahun tapi nyetir mobil yang $30,000 dan nyicil, itu yang menurut saya agak jomplang. Warren Buffet saja, salah satu orang terkaya di dunia gak tertarin untuk mengeluarkan uangnya buat mobil mewah.

  1. Tas, sepatu, baju dengan brand tertentu

I'M A SHOPAHOLIC AND CAN'T STOP SPENDING

Point ini yang sepertinya paling sensitive dan kontroversial. Tunjuk tangan kalo pernah pengen banget beli tas, sepatu, atau baju dengan merk ter-tentu. Sampe kebawa-bawa mimpi kalo malem. Saya juga kok, pernah ada masanya ingin beli barang-barang tertentu yang berkaitan dengan fashion. Sama dengan mobil mewah, barang-barang yang kita pakai kebanyakan valuenya akan turun. Tapi menurut saya hal-hal yang berkaitan dengan fashion ini juga ada efek samping lain diluar efek samping rugi financial. Sebagai Psikolog, salah satu kasus yang sering saya hadapi adalah orang-orang yang menderita secara financial dan emotional Karena menggunakan barang-barang fashion ber-merk untuk memberikan kebahagiaan untuk mereka. Pernah dengan shopaholic kan? Ketergantungan membeli barang-barang mewah untuk di pakai. Saya sering perhatikan banyak orang yang tergantung sama brand-brand fashion tertentu, deep down, banyak yang struggling dengan ketidak-bahagiaan. Jadi barang-barang ini fungsinya hampir sama dengan rokok, narkoba, alcohol, dan barang-barang adiktif lainnya.

Tulisan ini mungkin banyak menohok pembaca. Yang ingin saya garis bawahi adalah kalau tiga hal diatas merupakan pengeluaran yang kita pernah lakukan dan hasilnya berdampak buruk untuk keadaan financial kita, be kind to yourself. Karena kita bukan satu-satunya. Kita hidup di dunia dan budaya yang sering menjunjung tinggi gaya hidup mewah-mewahan. Tentu jadi susah untuk hidup beda sendiri.

Dan kalaupun prinsip keuangan kalian berbeda, no problem at all. No judgment. Everyone makes their own choice. Seperti yang saya bilang, tidak ada yang paling benar dan paling salah. Yang ada adalah consequency dari setiap jalan hidup dan keputusan financial yang kita pilih.

Dalam Memberi Ada yang Kita Pertanggung-Jawabkan

charity

Zakat, charity, altruism, memberikan sebagian dari rezeki yang kita dapat merupakan konsep yang dijunjung tinggi di hampir setiap agama dan budaya diseluruh dunia. Ada yang berpendapat wajib membantu orang-orang terdekat seperti keluarga, anak teman. Ada yang bilang lebih baik membantu orang yang paling membutuhkan (e.g., anak di Ethiopia yang kelaparan, dibanding keluarga dekat yang membutuhkan sepatu baru). Banyak philosophy-nya dalam memberi, tapi intinya sama, membantu orang yang lebih susah dari kita adalah sesuatu yang penting dalam prinsip hidup banyak orang di dunia.

Tidak heran kalau membantu sesama juga banyak keuntungan pribadi bagi si pemberi. Research sudah banyak menunjukan keuntungan dari sifat altruistik:

Tapi ada satu pertanyaan yang akhir-akhir ini sering muncul di kepala saya. Bagaimana kalau kebiasaan memberi kita menimbulkan efek samping yang tidak baik bagi penerima? Seperti ketergantungan, menggampangkan, kemalasan, dan meningkatkan gaya hidup si penerima? Beberapa contoh yang cukup saya dengar:

  • Memberi bantuan uang membuat orang jadi malas mencari pekerjaan.
  • Ketika mendapat bantuan uang, malah digunakan untuk membeli barang-barang yang sifatnya bukan kebutuhan pokok seperti tas dan sepatu bermerk atau handphone baru.
  • Menimbulkan emosi negatif bagi penerima – rasa cemas kalau tidak lagi mendapat bantuan kedepannya.

Disini saya jadi berpikir bahwa dalam membantu, ada bagian yang perlu kita pertanggung jawaban. Karena dalam memberi, sikap kita mempengaruhi jalan hidup seseorang, dan menurut saya itu merupakan pertanggung jawaban yang cukup tinggi.

Menurut saya ada dampak-dampak positif yang baik jadi tujuan kita ketika akan membantu orang lain:

1. Bantuan Menyelesaikan Masalah Kebutuhan Pokok

Ini menurut saya cukup penting, kalau orang masih membutuhkan bantuan dalam mencari makan sehari-hari atau kesehatan dasar, tentu masalah itu harus diselesaikan terlebih dahulu. Extreme Poverty adalah contoh kesulitan yang diderita jutaan manusia di dunia ini. Beberapa organisasi fokus untuk membantu orang-orang yang masih belum bisa memenuhi kebutuhan dasarnya. Saya suka mengikuti perkembangan organisasi di situs ini, karena mereka cukup menggunakan scientific methods yang bagus untuk penelitiannya.

2. Bantuan Membawa Solusi Jangka Panjang

Give a man a fish, and you feed him for a day. Teach a man to fish, and you feed him for a lifetime. Pasti sudah banyak yang dengar. Kadang dalam memberi kita sering hanya menyelesaikan masalah jangka pendek. Dengan memberi uang cash, kadang itu hanya menyelesaikan satu masalah tapi tidak menyesaikan inti permasalahan atau solusi jangka panjang. Contohnya, keluarga yang tidak mampu membayar listrik tapi masih tetap membeli barang-barang tidak pokok (e.g., sepatu, tas, baju) dengan merk tertentu datang meminta bantuan untuk membayar listrik. Pilihan kita setidaknya ada dua, memberikan uang cash untuk membayar listrik atau memberikan saran cara mengatur budget atau menurunkan napsu untuk meninggikan gaya hidup. Pilihan ketiga, setuju membantu kalau mereka sudah bisa mengatur pemasukan dan pengeluaran dengan baik. Memang terasa tega dan mungkin dampaknya kita dianggap pelit, tapi saya yakin dalam memberi kita juga bertanggung jawab untuk mendidik!

3. Bantuan Memotivasi Penerima Untuk Mandiri 

Menurut saya ini penting banget. Kalau bantuan membuat si penerima ingin bekerja keras, menyelesaikan masalahnya sendiri kedepannya, dan memperbaiki keadaan finansialnya, berarti yang memberi bantuan sudah sukses tidak hanya untuk meringankan beban hidup si penerima, tapi juga membantu si penerima membangun kembali hidup yang lebih mudah dan bermanfaat. Karena itu saya percaya banget, selain memberi uang, memberi bantuan pendidikan atau pengalaman itu akan sangat banyak manfaat jangka panjangnya. Kalau kata ayah saya, menyekolahkan orang atau memberikan pekerjaan kadang jauh lebih berguna dibandingkan hanya memberi bantuan uang untuk masalah-masalah jangka pendek.

Dan satu hal terakhir yang sering saya pikirkan adalah kadang ketika membantu, kita bisa jadi membuat proses ini “tentang kita” bukan “tentang si penerima”. Contoh, kita memberi karena ingin dilihat baik atau takut dibilang pelit. Jadi kita memberi tanpa memikirkan dampak-dampak apa yang akan muncul untuk si penerima.

Bagi saya pemberi akan lebih courageous, berani, dan bijaksana ketika ia rela dan ikhlas dilihat negatif oleh orang lain tapi yakin penerima bantuan akan mendapatkan hidup yang lebih baik di jakngka panjang, daripada terlihat baik dan tidak pelit tapi menimbulkan ketergantungan, kemalasan, dan justru hidup yang lebih sulit bagi penerima kedepannya.

 

Ingin anak kuliah di America setelah taun 2030? Berapa yang perlu disiapkan hari ini?

Education Fund

Ayah saya selalu bilang, jangan pernah takut untuk sekolah setinggi mungkin, karena uang bisa habis tapi ilmu gak akan pernah habis. Sekolah adalah salah satu investasi jangka panjang yang paling banyak return of investment nya, baik dari segi keuangan, pengalaman, dan perkembangan kedewasaan.

Sebagai pasangan muda yang sedang menyiapkan kelahiran anak pertama, diantara sekian banyak prioritas yang perlu disiapkan, biaya kuliah anak sering jadi topik paling akhir yang kita pikirkan. Mungkin karena masih beberapa tahun dari sekarang ketika anak berusia 18 tahun. Tapi kalau goal jangka panjang ini diteliti secara menyeluruh, ternyata 18 tahun itu bukan waktu yang panjang untuk menyiapkan biaya kuliah. Terutama kalau ingin anaknya kuliah di universitas di America.

Tentunya tidak semua keluarga ingin atau mampu mengutamakan menyiapkan biaya kuliah anak dari sedini mungkin. Itu semua kembali pada keputusan pasangan masing-masing. Seperti biasa, saya percaya untuk urusan keuangan, tidak ada mana yang paling benar dan paling salah. Yang ada adalah konsekuensi dari setiap keputusan yang kita ambil. Kalau uang kuliah sudah siap, anak bisa fokus pada pendidikan. Tapi anak yang sepenuhnya dibiayai kuliah bisa jadi tidak mendapat pengalaman harus bekerja sambil kuliah. Sebaliknya anak yang harus mencari sendiri biaya kuliahnya mungkin lebih semangat untuk kerja sampingan atau mencari beasiswa. Tapi hal ini bisa jadi mempengaruhi nilai mereka karena harus membagi waktu antara sekolah dan kerja. Jadi tidak ada formula paling tepatnya, tinggal kembali ke jalur mana yang terbaik untuk keluarga dan anak masing-masing.

Hari ini kami belajar tentang berapa biaya yang harus disiapkan kalau orang tua ingin membayar kuliah anak di America. Financial advisor dari tempat saya bekerja memberikan perincian yang sangat-sangat membantu untuk break down goal jangka panjang ini menjadi baby steps yang bisa kami lakukan sekarang. Perlu dicatat ini prediksi dari financial advisor kami, dan bukan saran mutlak. Silahkan dipelajari dan diambil info-nya sesuai kebutuh masing-masing.

Scenario ini adalah untuk anak yang lahir tahun 2017 dan keluarga yang baru mempunyai satu anak. Jadi kalau anak sudah lebih dari satu atau lahir sebelum atau sesudah tahun 2017, perhitungannya akan sedikit berbeda.

Saat ini (tahun 2017), prediksi rata-rata kuliah anak di Amerika (menggabungkan universitas negri dan swasta) sekitar USD $28,000 per tahun. Ini sudah termasuk biaya kuliah dan biaya hidup. Financial advisor kami memprediksi cost inflation rate of 5% antara tahun 2017 sampai 2033 (ketika anak kami 18 tahun).

18 tahun dari sekarang, diprediksi ini adalah biaya kuliah per-tahun anak yang lahir di tahun 2017 untuk ambil S1 selama 4 tahun – semua dalam US dollar:

Tahun 2033 (Semester 1 & 2)= $67,385/tahun

Tahun 2034 (Semester 3 & 4)= $70,755/tahun

Tahun 2035 (Semester 5 & 6)= $74,292/tahun

Tahun 2036 (Semester 7 & 8)= $78,007/tahun

Total Biaya Kuliah S1 selama 4 tahun = $290,439 

Kalau dirubah ke rupiah dengan mata uang hari ini total biaya kuliah anak untuk S1 di America sekitar Rp. 3,891,301,722 atau hampir 4 milyar rupiah di tahun 2033-2036. 

Kalau kami ingin mulai menabung kuliah anak sejak anak lahir, rekomendasinya adalah menyisihkan $7,750/tahun atau sekitar $650/bulan dimulai dari tahun 2017 sampai 2033.

Dan angka diatas tentunya kalau ingin membiayai kuliah anak 100%. Tidak ada keharusannya. Beberapa orang tua membiayai hanya biaya kuliahnya, untuk biaya hidup anak harus cari sendiri. Atau mungkin ada orang tua yang hanya membayar tuition fee per tahun, tapi untuk buku dan tambahan-tambahan lain anak harus mencari beasiswa atau bekerja sendiri.

Namun sebelum mulai memikirkan biaya kuliah anak, ada beberapa prioritas utama yang perlu sudah dicapai, kalau saran dari financial advisor kami:

  • Emergency saving sekitar 3-6 bulan pengeluaran per-bulan. Jangan sampai kita tidak punya emergency saving sehingga meskipun niatnya ingin meringankan beban anak, tapi kalau kitanya sendiri tidak bisa survive ketika ada emergency, nanti malah jadi merepotkan anak, keluarga, atau orang lain.
  • Lunasi cicilan, kecuali cicilan rumah. Jadi kalau masih ada cicilan lainnya (mobil, student loan, atau consumer debt lainnya) segera diselesaikan sebelum mulai tabungan pendidikan anak.
  • Siapkan dana pensiun paling tidak 10% dari pendapatan per-bulan – mulai dari sekarang. Sama dengan point pertama. Kalau dihari tua kita tidak bisa menyiapkan dana pensiun kita, percuma menyiapkan biaya kuliah anak tapi nantinya kita harus bergantung dan merepotkan anak. Kalau anak tidak punya biaya kuliah 100% mereka masih bisa mencari beasiswa, tapi kalau manula tidak punya biaya hari tua, akan susah mencari rezeki ketika sudah usia di atas 65 tahun. Tapi hal ini juga kadang masih menjadi sesuatu yang taboo di budaya timur, jadi silahkan kembali ke philosophy keluarga masing-masing.

Semoga infonya membantu yah. Kalau teman-teman seperti kami, saya sadar betul bahwa topik semacam ini sering meningkatkan kecemasan. Jadi bikin deg-degan apa bisa menyiapkan dana pendidikan. Atau merasa sudah terlambat. Saran saya, tidak ada kata terlambat untuk mencapai kesehatan finansial. Sama seperti kesehatan badan, yang penting kita memulai semampu mungkin mulai dari sekarang.

Cheers!

-AJP-

Truth or truth: Buka-bukaan masalah keuangan

valentin07

Banyak info di luar sana kalau masalah keuangan adalah faktor utama perceraian. Sebenernya ini rada kurang tepat. Bukan masalah keuangan yang – setelah diteliti – menjadi faktor utama perceraian. Karena banyak pasangan yang hidup dalam keadaan keuangan yang sulit tapi pernikahannya bertahan lama. Yang lebih akurat, dari beberapa research, keributan karena masalah keuangan yang menjadi salah satu faktor signifikan yang menyebabkan perceraian.

Kunci awal dari mengurangi ribut masalah keuangan, saya rasa, adalah keterbukaan TOTAL antara suami dan istri. Dari awal menikah (atau untuk beberapa pasangan bahkan mungkin sebelumnya) ada baiknya pasangan sharing tentang berbagai topik keuangan, mulai dari penghasilan, tabungan, cicilan, tujuan jangka panjang, ketakutan, kebutuhan. Memang sih, ini topik yang bukan paling menyenangkan, bahkan kadang janggal dan bikin tidak nyaman untuk di bahas.

Kalau menurut saya, membicarakan masalah keuangan itu seperti latihan lari. Awalnya, kalau belum sering lari, susaaaahhhh minta ampun. Gak nyaman. Kadang literally bikin sesek napas. Tapi kalau terus dilatih antara pasangan, lama-lama jadi bisa terbiasa, dan bahkan bisa membantu meningkatkan kesehatan financial. Ini beberapa kunci yang kami rasa bisa membantu untuk mengurangi ketegangan saan membicarakan masalah keuangan:

1. Take it slow

Bahas setiap topik satu-satu. Jangan langsung diserbu semuanya. Supaya gak panik dan bikin tambah ribut.

2. Saling mengerti emosi masing-masing

Topik keuangan biasanya sering membawa emosi negatif yang berbeda-beda. Ada yang panik, takut, malu, sedih, atau marah ketika sedang membahas keuangan. Mengerti perasaan apa yang sering muncul di pasangan kita bisa membantu kita untuk lebih mengerti dan sabar.

3. Kalau sampai harus berantem – itu normal 

Kadang karena pasangan pasti ada perbedaannya, mungkin obrolan jadi rada heated. Itu mah biasa. Kalo pasangan ngomongin uang terus gak pernah berantem sama sekali, itu baru luar biasa – condong aneh dan mengkhawatirkan. Jadi kalau sampai ribut, itu gak apa-apa. Yang penting adalah setelah ribut bisa diselesaikan dan ketemu jalan keluarnya. Atau paling nggak bisa menambah pengertian antara satu sama lain.

Jadi topik apa aja yang perlu dibahas? Sebenarnya banyak banget, tapi ini beberapa yang menurut saya topik-topik dasar, paling nggak untuk mulai saling terbuka.

Penghasilan dan Pengeluaran 

Orang tua saya selalu mewanti-wanti, kalau sudah menikah harus sepenuhnya terbuka mengenai masalah keuangan. Penting banget. Supaya tau semua pemasukan benar asalnya. Jadi kalau suami atau istri ada tendensi korupsi, bisa langsung saling mengingatkan. Kalau mendapat hadiah atau bantuan, juga harus saling tau satu sama lain.

Pengeluaran juga sama. Diskusikan semua biaya bulanan atau dadakan. Ibaratnya kalau tangan kanan memberi tangan kiri gak usah tau, tapi istri atau suami perlu tau. Karena pemasukan pengeluaran ini yang biasanya sering jadi topik ribut.

Sisa cicilan 

Semua pinjaman dan hutang juga harus dibeberkan sejujur mungkin. Kalau di America, untuk alasan praktikal, karena setelah nikah, hutang yah dibagi dua. Jadi tanggung jawab suami dan istri. Jadi kalau masih ada pinjaman mobil atau cicilan rumah, kedua-duanya harus tau. Karena hidup gak ada yang tau, kalau satu meninggal lebih awal, akan jatuh sepenuhnya ke tangan pasangannya.

Tabungan dan investasi jangka panjang

Ini sebeneranya paling seru sih untuk dibahas. Karena hubungannya erat dengan poin terakhir. Di sini bisa saling ngayal-ngayal tujuan penting apa yang bisa di capai kalau kita rajin nabung dan investasi. Saya dan suami paling senang lihat universitas-universitas bagus di sini. Sambil ngayal-ngayal anaknya bisa masuk ke Ivy League University (ambisi bapak ibunya banget yaaahh!!). Tapi ini yang memacu kami untuk rajin menabung demi masa depan anak.

Strategi tabungan dan investasi jangka panjang juga harus didiskusikan secara terbuka. Karena investasi kadang ada resikonya masing-masing. Jadi suami dan istri dua-duanya sudah harus siap. Siap investasi berhasil. Tapi juga siap kadang investasi justru turun.

Ketika harus menggunakan tabungan untuk hal-hal emergency atau membeli sesuatu yang besar, juga penting untuk selalu dibicarakan terlebih dahulu. Jangan asal ambil keputusan sendiri.

Tujuan-tujuan masa depan 

Fokus pada tujuan masa depan itu gak selalu gampang. Apalagi kalau ada restaurant baru yang buka atau discount di mall atau baju anak yang lucu-lucu. Tapi semakin sering kita membahas tujuan masa depan, semakin membantu kita untuk fokus mengolah keuangan secara bijak.

Topik-topik yang untuk kami paling memberikan motivasi untuk fokus ke tujuan jangka panjang:

  • Sekolah dan pendidikan anak
  • Bisa hidup mandiri di masa tua tanpa merepotkan anak atau keluarga lainnya
  • Membangun rumah yang (tidak perlu mewah) tapi nyaman dan berkah
  • Memberikan kontribusi balik ke masyarakat dan orang-orang yang membutuhkan

Semoga pelan-pelan kita bisa saling terbuka dan menjalin financial intimacy dengan pasangan kita. Karena ini bukan topik paling mudah, be kind to yourself… be kind to each other. 

Cheers!

-AJP-

 

 

 

Kumpulkan memori bukan barang

8933782bdbd1b1f6782fe6c4b15e74cb

Saat ini, budaya hedonism dan materialistik bisa dirasakan hampir di setiap tikungan. Shopping mall ada di mana-mana baik di Jakarta atau di America. Hampir setiap saat ada saja sale-sale yang bermunculan. Kalau di sini mulai dari Labor Day Sale, 4th of July Sale, Memorial Day Sale dan jenis-jenis tawaran lainnya. Perhatikan, kalau kumpul di acara keluarga, sulit rasanya menghindari pembicaraan seputar barang-barang terbaru: sepatu merk tertentu, tas branded yang baru keluar, gadget paling canggih, handphone dengan camera terbagus.

Hal ini saya rasakan lebih lagi setelah kami hamil. Mendadak banyak sekali mendapat saran tentang barang yang HARUS kami siapkan buat si anak bayi ini. Botol susu paling canggih, ayunan bayi paling mahal, stroller paling enteng, mainan yang paling menstimulasi otak, baju bayi paling lucu, dan ratusan jenis-jenis barang lainnya yang harus kami beli. Jujur saja kadang antara memprioritaskan menyiapkan rumah, menyiapkan biaya sekolah dan kuliah anak, menyiapkan dana pensiun, kami sering kehilangan fokus dan napsu ingin menyiapkan barang-barang jangka pendek (baca: perlengkapan bayi) yang paling terbaik (dan mahal) – dan hasilnya mengalahkan tujuan-tujuan jangka panjang yang mutlak jauh lebih penting.

Tapi lalu saya berhenti dan berpikir. Apa sih yang sebenarnya paling dibutuhkan kami calon orang tua dan anak bayi seukuran rata-rata 8 pounds dan 20 inches? Saya langsung sepenuhnya sadar bahwa yang kami butuhkan adalah moments bukan things. Karena 10 tahun dari sekarang, yang akan paling kami ingat bukan jenis botol susu apa yang anak kami pakai, tapi perasaan membawa dia pertama kali ke rumah dari rumah sakit atau perasaan pertama kali kami kerja sama untuk menenangkan si bayi tengah malam.

Selama kehamilan ini, kami berusaha mempraktekan beberapa kebiasaan ini untuk memastikan bahwa kami tidak salah fokus – lebih memperhatikan hal-hal materialistis dibandingkan pengalaman sekali seumur hidup ini.

1. Menyiapkan keperluan dasar bayi sebaik mungkin setelah melakukan research yang cukup

baby_items

Katanya jangan mengumpulkan barang, tapi kok tips pertama langsung tentang membeli barang? Karena memang bayi juga ada keperluaanya, tidak bisa dihindarkan. Mereka perlu tempat untuk tidur, diapers, handuk mandi. Tapi yang perlu hati-hati, diluar sana dan banyak orang yang akan memberi saran apa yang paling “The Best” untuk setiap barang-barang ini. Mulai dari the best stroller of the year sampai the best bedong bayi.

Tentu normal untuk orang tua ingin menyiapkan yang terbaik untuk bayinya. Kalau kung bercandanya “Yah gak apa-apa lah anak pertama dibelikan kereta dorong kencana”. Dan mungkin untuk beberapa barang seperti carseat atau stroller boleh condong ke jenis yang kualitasnya lebih tinggi karena bisa untuk jangka panjang (untuk anak berikutnya). Tapi yang kami pertanyakan, apa memang perlu untuk lap gumoh yang paling the best of the year? Dengan harga yang tentu lebih mahal. Yah mungkin sekarang saya belum jadi orang tua jadi belum tau, tapi kalau saya pikir lebih penting bayi saya punya lap gumoh paling hip taun ini, atau ayah ibu yang sigap ketika anaknya gumoh?

Karena itu, research cukup penting untuk kami. Research barang apa saja yang memang basic necessities dan mana yang optional. Dan tentu list ini juga tentative, untuk beberapa orang tua, mungkin penghangat baby wipes merupakan kebutuhan pokok, tapi untuk orang tua lainnya (dan bayi lainnya) ini barang optional. Berikutnya memikirkan barang mana yang harus beli baru (e.g., carseat) dan mana yang bisa kami terima lungsuran dari teman yang sudah punya anak (e.g., baju bayi). Dengan melakukan riset dengan baik, bisa sangat membantuk menurunkan pengeluaran persiapan bayi yang pada dasarnya sudah cukup tinggi. Dan bisa mengembalikan fokus kita pada hal-hal jangka panjang yang jauh lebih penting seperti sekolah anak dan biaya asuransi jiwa.

2. Kumpulkan moment-moment kecil sehari-hari

19366385_10109992106031350_1728032034951904788_n

Kami sudah mempersiapkan bahwa setelah bayi ini lahir akan ada tenggang waktu dimana kita akan housebound, cuma bisa di rumah saja selama sekitar 4-6 minggu. Menariknya, post-partum depression dan anxiety juga sangat meningkat di waktu-waktu ini. Banyak moment-moment mengejutkan, menegangkan (dan tentunya beberapa juga positif) yang dihadapi orang-tua dan bayi. Dari pasien-pasien yang sudah saya tangani, akan mudah orang tua untuk “melarikan diri” dengan fokus pada hal-hal yang sifatnya lebih ke logistik. Contoh, fokus pada barang-barang yang perlu dibeli, apa yang kurang, apa yang belum kesampaian disiapkan. Ini semua normal dan bisa dipahami – karena memang banyak yang kebutuhan pokok. Tapi yang lebih sulit dipraktekan adalah menjalani, memahami, dan kalau bisa menikmati moment-moment kecil (tapi priceless) yang akan bermunculan.

Research sudah menunjukan bahwa kebahagiaan lebih banyak dipengaruhi oleh pengalaman, oleh moments in life, bukan oleh barang yang kita beli dan kumpulkan. Semenjak saya hamil, saya dan suami berusaha untuk mempraktekan kebiasaan-kebiasan kecil untuk kita bisa mengkoleksi moment sehari-hari yang meningkatkan quality of life kami.

  • Saya mulai (walaupun kadang sering perlu dipaksa) membiasakan saya dan suami punya “Cuddle Time”. Waktu di mana kita unplugged dari TV, laptop, handphone, dan segala elektronik lainnya, dan hanyak membicarakan betapa bersyukurnya kita dalam hidup. Kalau bisa tidak membicarakan masalah-masalah yang ada dan perlu diselesaikan, hanya hal-hal dan rezeki yang sudah kita dapat yang perlu disyukuri. Tidak perlu lama-lama, mungkin sekitar 15-20 menit setiap hari.
  • Jalan sore. Karena saya perlu olah raga juga untuk mempersiapkan melahirkan, saya dan suami membiasakan jalan sore setelah pulang kantor. Hanya di kompleks sekitar rumah saja. Biasanya ketika jalan sore ini, kita mulai membicarakan rencana-rencana jangka panjang, sekolah anak, dana pensiun, mempersiapkan rumah, dan target-target karir kami.
  • Luangkan waktu untuk teman dan keluarga. Saya mulai jauh lebih rutin untuk menelf papa mama saya, kung dan eninya anak kami. Supaya mereka juga involved dalam perkembangan anak kami dari sekarang. Yang lebih saya nikmati lagi, mengumpulkan tips-tips cara membesarkan anak. Karena tentu mereka ahlinya – karena mereka sudah membesarkan saya dan hasilnya tidak gagal-gagal banget kok, hehehe. Kung biasanya yang punya banyak nasihat tentang mengolah keuangan dengan benar, tentang mengajarkan hidup sederhana dan tidak gegabah, tentang values-values yang perlu ditanamkan pada anak sejak sekarang. Eni nya yang selalu mengingatkan tentang agama, tentang cara mengajarkan anak dalam urusan sekolah, tentang cara bersopan santun dan selalu membantu orang lain.

Masih ada praktek-praktek mengumpulkan moments lain yang sering kami lakukan (e.g., memasak bareng, hiking, mengunjungi tempat baru). Dan guess what kalo teman-teman lihat, hampir semuanya tidak memerlukan biaya ekstra sama sekali. Malah kebanyakan gratis 100%.

3. Berbagi pada orang yang lebih membutuhkan 

charities

Ketika sedang mempersiapkan kedatangan anak, wajar kalau orang tua fokus pada keluarga inti. Menomor satukan kebutuhan-kebutuhan dasar si anak. Dan kami sangat bersyukur, sejak saya hamil banyak sekali orang-orang di sekitar yang mulai pesan-pesan “nanti kita yang belikan ini yah” atau bertanya “masih butuh apa lagi?” Tentu kami sangat-sangat menghargai perhatian ini dan bersyukur banyak sekali yang perduli pada si anak bayi.

Tapi akhir-akhir ini saya sering mulai berpikir, ketika anak kami banyak yang memperhatikan, berapa banyak bayi di dunia ini yang tidak mendapatkan rezeki dan perhatian yang sama? Berapa banyak bayi yang tidak mempunyai selimut dan popok yang nyaman ketika lahir? Berapa banyak bayi yang tidak punya orang tua untuk menggendong mereka?

Ketika teman dan keluarga sekitar mulai bertanya, apa yang kami butuhkan, saya pelan-pelan mulai menjelaskan bahwa kami bersyukur yang kami butuhkan kebanyakan sudah ada. Tapi kalau teman-teman dan keluarga punya rezeki tambahan, kami dengan senang hati bisa menyalurkan barang-barang bayi itu ke yayasan atau organisasi yang membantu anak-anak yang kurang beruntung. Benar-benar bukan kami ingin sombong atau menolak pemberian, tapi ada beberapa alasan penting yang ingin kami ajarkan kepada si anak bayi ini:

  • Kami ingin mengajarkan bahwa yang paling penting dia terima dari keluarga dan teman-teman disekitarnya adalah perhatian, kasih sayang, dan waktu. Moments dengan merekalah yang akan dia ingat ketika dia dewasa, bukan barang apa yang mereka beri.
  • Saya tidak ingin mengajarkan ke anak kami bahwa inti dari hubungan dengan orang-orang terdekat adalah mendapatkan perhatian melalui “menerima barang”. Dia akan sudah berkembang di dunia dimana materialisme dan hedonism ada di setiap tempat dan waktu. Sebagai orang tua, kami ingin “mengontrol” bahwa setidaknya dalam hubungan orang terdekat, tidak hanya melulu membicarakan barang-barang terbaik, termahal, dan paling hip.
  • Kami ingin mengajarkan ke si bayi ini dari sedini mungkin untuk melihat ke bawah. Melihat anak-anak lain yang tidak seberuntung dirinya. Dan mulai menanamkan rasa ingin berbagi.

Kenapa? Karena research sudah menunjukan bahwa membantu orang lain yang sedang kesulitan itu berhubungan dengan meningkatnya rasa bahagia, umur panjang, dan kesehatan.

Saran-saran lain dari teman-teman dan orang tua yang sudah jauh lebih berpengalaman untuk mengajarkan anak mengerti hidup sederhana dan apa yang paling penting dalam hidup tentunya sangat-sangat kami butuhkan dan hargai.

Happy Weekend!

-AJP-

Baru Kerja? Mulai pikirkan dana pensiun

12501930_1724088641144117_2144342178_n

Di umur 20- dan 30-an, janggal rasanya untuk mulai memikirkan dan menyiapkan hari tua. Sering umur 65 masih terasa jauh sekali. Baru dapat kerja, mulai hidup mandiri, muncul rasa ingin menikmati hidup sepuas-puasnya. Wajar saja. Kalau kata ayah saya, setiap orang pasti inginnya waktu kecil bahagia, masih muda foya-foya, sudah tua kaya raya.

Tapi di sini saya ingin memulai pembicaraan tentang pentingnya mulai memikirkan dana pensiun sedini mungkin. Ketika kita masih muda. Masih banyak energi untuk berkarir dan mencari rezeki. Untuk kami sendiri, ada beberapa alasan kenapa kami ingin mulai memikirkan pensiun secepat mungkin, diusia kami yang masih produktif.

Tapi tentunya kapasitas orang berbeda-beda untuk mulai tahap ini. Dan untuk saya tidak ada formula paling benar. Banyak orang yang tidak bisa memulai menyiapkan dana pensiun karena tuntutan hidup yang tidak memungkinkan. Tapi sering juga kita tidak menyiapkan karena tidak tahu pentingnya tabungan masa tua atau tidak bisa menahan diri untuk menghambur-hamburkan uang untuk kesenangan jangka pendek.

Ini beberapa alasannya kenapa menurut kami menyiapkan masa tua itu sangat penting:

1.Memberikan lebih banyak pilihan dan kontrol di hari tua

Masa tua itu tidak sepenuhnya menyenangkan. Sering manusia harus melewati hal-hal yang diluar kendalinya di masa tua. Contohnya, manula yang sakit kronis hilang kemampuannya untuk menjalani hidup sehari-hari tanpa rasa sakit. Dan sering kali tidak menyiapkan financial security di masa tua memberikan banyak kecemasan dan rasa hilang kendali untuk hidup kita sendiri. Ada kesamaan antara menyiapkan kesehatan fisik dan kesehatan finansial. Kalau kita ditanya, bagaimana supaya kita bisa hidup sehat dan kuat sampai tua, mungkin jawabannya mulai mengatur pola makan, olah raga, tidak merokok. Dan kebiasaan ini baiknya dimulai dari se-muda mungkin. Karena membutuhkan waktu yang panjang untuk menyiapkan kesehatan fisik yang optimal. Sama juga dengan kesehatan finansial. Beberapa kebiasaan yang perlu dimulai dari muda adalah hidup sederhana (biasakan pengeluaran lebih sedikit dari pemasukan), menabung, dan bertanggung jawab setiap akan mengambil keputusan finansial.

Walaupun mungkin ketika muda kita harus banyak melewatkan hal-hal yang menyenangkan demi menabung (contoh: beli mobil mewah, traveling, beli baju mahal), tapi menyiapkan dana pensiun akan memberikan lebih banyak kontrol dan pilihan ketika kita sudah tua. Mungkin kita jadi punya pilihan untuk pensiun di tempat yang kita idamkan seperti di pinggir pantai atau di pengunungan.

2.Tidak bergantung pada pemerintah – karena pemerintah belum tentu bisa digantungi

Salah satu alasan lainnya adalah supaya kita tidak perlu bergantung pada dana tunjangan dari pemerintah. Terutama untuk para manula di negara berkembang seperti Indonesia, mungkin pemerintah juga belum sanggup untuk memberikan dana bantuan yang optimal untuk para orang tua. Jadi ada baiknya kita membantu pemerintah dengan belajar mandiri dan menyiapkan kebutuhan hari tua kita dari jauh hari. Syukur-syukur pemerintah semakin maju dan bisa menyediakan dana kesehatan dan pensiun bagi manula lebih baik lagi.

3.Tidak merepotkan anak dan keluarga

Sekarang, sebagai calon orang tua, kami semakin sadar pentingnya menyiapkan masa depan untuk anak. Bukan mengharapkan masa depan kami jadi tanggung jawab anak. Saya selalu ingat kata-kata ayah saya, “anak itu bukan investasi. Mereka punya masa depannya sendiri.”

Kalau menarik garis jauh kedepan, saya sudah bisa membayangkan, ketika saya umur 65, anak saya akan berusia 35 tahun. Masa-masa dimana dia baru akan memulai kehidupannya sendiri. Masa itu ia akan mulai memikirkan sekolah anak-anaknya, mungkin menyiapkan rumah, membangun karir, dan menyelesaikan tanggung jawab besar dihidupnya sendiri. Jadi rasanya tidak adil kalo kami juga membebankan kehidupannya di atas semua tanggung jawab lain yang sudah harus ia jalankan.

Itu yang semakin memotivasi kami untuk mulai menyiapkan dana pensiun sedini mungkin. Supaya anak-anak kami nantinya tidak mendapat beban tanggung jawab yang terlalu besar: membesarkan anak mereka sendiri dan merawat orang tuanya.

Perlu dijelaskan bahwa saya bukan ingin mengkritik budaya timur dan ajaran kita tentang pentingnya anak untuk merawat orang tua. Saya rasa itu merupakan sesuatu yang baik, untuk anak selalu ingat pada orang tuanya, selalu memberikan perhatian, menjaga hubungan, dan membantu ketika mampu. Tapi untuk kami, membantu orang tua keputusannya ada ditangan anak, merupakan hak mereka, dan berdasarkan kemampuannya masing-masing. Karena ayah saya pernah bilang, kalau orang tua mewajibkan anak-anaknya untuk mengurus mereka ketika tua, itu namanya hidup mundur ke belakang. Anak kewajibannya membesarkan generasi selanjutnya. Itu baru hidup yang fokus ke depan. Tapi, ketika anak sanggup dan memutuskan untuk merawat orang tuanya di hari tua tentu itu merupakan keputusan yang mulia. Karena social connection adalah salah satu prediksi kebahagian yang paling kuat bagi kebanyakan manusia.

Di tulisan lainnya, saya akan membahas strategi mulai membangun dana pensiun dari muda.

Welcoming a Baby! 5 Hal Yang Perlu Disiapkan

Dua garis… positif! Selamat! Dan selamat datang di perjalanan hidup baru! Menjadi orang tua butuh banyak persiapan. Kesehatan, psikologis, emosi, dan… yang agak jarang dibicarakan…. Keuangan. Di sini saya ingin membahas topik yang sering dirahasiakan dan dianggap taboo ini. Kenapa? Karena, kalau kebanyakan calon orang tua berpikiran sama dengan saya dan suami, masalah keuangan adalah hal yang cukup sering kita pikirkan dalam mempersiapkan our bundle of joy.

Lalu, apa saja yang harus langsung dipersiapkan? Disclaimer, points di bawah ini saya tulis berdasarkan kehidupan saya dan suami di America. Kemungkinan tidak semua point relevan untuk kehidupan di Indonesia atau negara lainnya.

1.Uang tabungan 3-8 bulan pengeluaran bulanan

Sebenarnya tidak ada keharusan berapa tabungan yang harus ada sebelum anak lahir. Yang ada adalah konsekuensi. Ketika kita memiliki sempanan extra, konsekuensi positif yang bisa didapat adalah ketenangan jiwa. Kalau sewaktu-waktu ada emergency (dan sepertinya kalau punya anak pengeluaran emergency itu akan sering ada). Dengan adanya tabungan, kita juga bisa menghindari cemas dan ketakutan tidak sanggup mengatasi cobaan ketika ujian itu datang (e.g., kehilangan pekerjaan, sakit, masalah lainnya).

Rumus saya untuk emergency saving adalah dengan menghitung berapa biaya pengeluaran pokok keluarga perbulannya. Tidak termasuk anggaran foya-foya seperti makan di restaurant atau jalan-jalan. Hanya pengeluaran yang sifatnya harus, seperti biaya rumah, listrik, makan sehari-hari, dan cicilan kalau masih ada cicilan. Tujuan awal adalah menyimpan 3 kali dari biaya pengeluaran pokok perbulan Karena di America, biasanya dibutuhkan waktu sekitar 3 bulan untuk mencari pekerjaan (kalau emergency-nya adalah kehilangan pekerjaan). Lebih amannya lagi adalah menyimpan tabungan sekitar 6 sampai 8 bulan biaya pokok pengeluaran perbulan.

2. Asuransi kesehatan

Di America, biaya pengobatan jumlahnya sering tidak masuk akal. Jadi yang paling aman adalah punya asuransi kesehatan. Biaya melahirkan tanpa asuransi bisa mencapai $15,000 sampai $30,000. Jadi sangat penting untuk punya asuransi kesehatan yang akan cover biaya melahirkan dan cek rutin dokter selama hamil. Mungkin di Indonesia system-nya beda. Jadi selain harus ada emergency saving, mungkin perlu menyisihkan uang untuk menyiapkan biaya check-up dokter selama hamil dan melahairkan.

3. Asuransi jiwa

Waktu saya hamil, HR dari rumah sakit tempat saya bekerja langsung bikin jadwal meeting dengan financial advisor untuk mempersiapkan berbagai worst case scenario. Ketika ada anak, penting untuk mempersiapkan untuk situasi terburuk, kalau mendadak saya dan suami meninggal. Memang rasanya janggal, baru saja dengar berita bahagia bahwa akan punya anak, langsung memikirkan kematian. Tapi hidup dan nyawa tidak ada yang tahu, dan tugas kita sebagai orang tua adalah mempersiapkan sebaik mungkin bahwa anak kita tidak akan terlantar kalau terjadi apa-apa dengan kita kedepannya.

Asuransi jiwa adalah salah satu strategi untuk mempersiapkan hal terburuk ini. Cara menghitung berapa jumlah asuransi jiwa yang perlu diambil adalah dengan menghitung… kalau tiba-tiba orang tua meninggal, kira-kira berapa jumlah uang yang perlu dipersiapkan sehingga anak kita tidak terlantar dan menderita.

Biasanya pilihannya adalah 3 kali total gaji pertahun. Jadi kalau gaji kita pertahun Rp. 100.000.000, asuransi jiwa yang diambil mungkin sekitar Rp. 300 juta. Atau bisa juga 6 kali gaji atau lebih. Tergantung dengan kesanggupan kita.

4. Dana pensiun

Ayah saya pernah bilang, “anak itu milik masa depan. Mereka bukan investasi yang kita tuntut untuk mengurus orang tua nantinya.” Bagi saya, merupakan kewajiban saya dan suami untuk bisa menyiapkan dana masa tua sebaik-baiknya, dimulai dari sekarang. Di America biasanya perusahaan sudah menyediakan tabungan pensiun. Kita yang memilih untuk menyisihkan berapa persen dari gaji kita untuk dimasukan ke dalam tabungan pensiun. Rata-rata karyawan memasukan sekitar 4% untuk gajinya untuk dana pensiun. Namun ini kadang tidak cukup untuk membiayai kebutuhan kita di hari tua.

Bagaimana cara memperkirakannya? Garis besarnya, diperkirakan umur berapa kita akan pensiun. Mungkin 55, 60, atau 65 tahun. Sebagai contoh mungkin 65 tahun. Rata-rata manusia zaman sekarang bisa hidup sampai umur 90 tahun. Jadi masa pensiun akan ada sekitar 25 tahun. Hitung saja untuk masa sekarang berapa biaya yang dibutuhkan per tahun untuk hidup. Lalu kalikan 25 tahun. Akan lebih amannya untuk dilebihkan dari itu mengingat inflasi dan biaya hidup yang akan semangkin mahal kedepannya.

Kalau sudah menarik waktu kemasa depan, bisa dilihat berapa banyak biaya yang dibutuhkan untuk hari tua. Ini pengingat yang baik akan pentingnya hidup sederhana di masa sekarang dan mulai investasi sedini mungkin.

5. Biaya pendidikan

Saat ini di America dibutuhkan sekitar $200 ribu dollar untuk biaya kuliah S1 anak. Bukan jumlah yang sedikit. Tips yang saya dapat adalah untuk mulai menabung sekitar $500 per bulan untuk persiapan kuliah anak sejak anak lahir. Mungkin setelah baca saran ini, banyak yang mulai langsung panik. Saran saya, mulailah tabungan pendidikan semampu mungkin, tidak perlu terlalu dipaksakan. Terutama jika belum ada persiapan untuk poin 1-4, tabungan pendidikan bisa jadi prioritas belakangan. Kenapa? Karena, anak akan punya kesempatan untuk mencari beasiswa atau bekerja sambal kuliah. Sedangkan dana pensiun lebih susah untuk cari substitute nya.