Dalam Memberi Ada yang Kita Pertanggung-Jawabkan

charity

Zakat, charity, altruism, memberikan sebagian dari rezeki yang kita dapat merupakan konsep yang dijunjung tinggi di hampir setiap agama dan budaya diseluruh dunia. Ada yang berpendapat wajib membantu orang-orang terdekat seperti keluarga, anak teman. Ada yang bilang lebih baik membantu orang yang paling membutuhkan (e.g., anak di Ethiopia yang kelaparan, dibanding keluarga dekat yang membutuhkan sepatu baru). Banyak philosophy-nya dalam memberi, tapi intinya sama, membantu orang yang lebih susah dari kita adalah sesuatu yang penting dalam prinsip hidup banyak orang di dunia.

Tidak heran kalau membantu sesama juga banyak keuntungan pribadi bagi si pemberi. Research sudah banyak menunjukan keuntungan dari sifat altruistik:

Tapi ada satu pertanyaan yang akhir-akhir ini sering muncul di kepala saya. Bagaimana kalau kebiasaan memberi kita menimbulkan efek samping yang tidak baik bagi penerima? Seperti ketergantungan, menggampangkan, kemalasan, dan meningkatkan gaya hidup si penerima? Beberapa contoh yang cukup saya dengar:

  • Memberi bantuan uang membuat orang jadi malas mencari pekerjaan.
  • Ketika mendapat bantuan uang, malah digunakan untuk membeli barang-barang yang sifatnya bukan kebutuhan pokok seperti tas dan sepatu bermerk atau handphone baru.
  • Menimbulkan emosi negatif bagi penerima – rasa cemas kalau tidak lagi mendapat bantuan kedepannya.

Disini saya jadi berpikir bahwa dalam membantu, ada bagian yang perlu kita pertanggung jawaban. Karena dalam memberi, sikap kita mempengaruhi jalan hidup seseorang, dan menurut saya itu merupakan pertanggung jawaban yang cukup tinggi.

Menurut saya ada dampak-dampak positif yang baik jadi tujuan kita ketika akan membantu orang lain:

1. Bantuan Menyelesaikan Masalah Kebutuhan Pokok

Ini menurut saya cukup penting, kalau orang masih membutuhkan bantuan dalam mencari makan sehari-hari atau kesehatan dasar, tentu masalah itu harus diselesaikan terlebih dahulu. Extreme Poverty adalah contoh kesulitan yang diderita jutaan manusia di dunia ini. Beberapa organisasi fokus untuk membantu orang-orang yang masih belum bisa memenuhi kebutuhan dasarnya. Saya suka mengikuti perkembangan organisasi di situs ini, karena mereka cukup menggunakan scientific methods yang bagus untuk penelitiannya.

2. Bantuan Membawa Solusi Jangka Panjang

Give a man a fish, and you feed him for a day. Teach a man to fish, and you feed him for a lifetime. Pasti sudah banyak yang dengar. Kadang dalam memberi kita sering hanya menyelesaikan masalah jangka pendek. Dengan memberi uang cash, kadang itu hanya menyelesaikan satu masalah tapi tidak menyesaikan inti permasalahan atau solusi jangka panjang. Contohnya, keluarga yang tidak mampu membayar listrik tapi masih tetap membeli barang-barang tidak pokok (e.g., sepatu, tas, baju) dengan merk tertentu datang meminta bantuan untuk membayar listrik. Pilihan kita setidaknya ada dua, memberikan uang cash untuk membayar listrik atau memberikan saran cara mengatur budget atau menurunkan napsu untuk meninggikan gaya hidup. Pilihan ketiga, setuju membantu kalau mereka sudah bisa mengatur pemasukan dan pengeluaran dengan baik. Memang terasa tega dan mungkin dampaknya kita dianggap pelit, tapi saya yakin dalam memberi kita juga bertanggung jawab untuk mendidik!

3. Bantuan Memotivasi Penerima Untuk Mandiri 

Menurut saya ini penting banget. Kalau bantuan membuat si penerima ingin bekerja keras, menyelesaikan masalahnya sendiri kedepannya, dan memperbaiki keadaan finansialnya, berarti yang memberi bantuan sudah sukses tidak hanya untuk meringankan beban hidup si penerima, tapi juga membantu si penerima membangun kembali hidup yang lebih mudah dan bermanfaat. Karena itu saya percaya banget, selain memberi uang, memberi bantuan pendidikan atau pengalaman itu akan sangat banyak manfaat jangka panjangnya. Kalau kata ayah saya, menyekolahkan orang atau memberikan pekerjaan kadang jauh lebih berguna dibandingkan hanya memberi bantuan uang untuk masalah-masalah jangka pendek.

Dan satu hal terakhir yang sering saya pikirkan adalah kadang ketika membantu, kita bisa jadi membuat proses ini “tentang kita” bukan “tentang si penerima”. Contoh, kita memberi karena ingin dilihat baik atau takut dibilang pelit. Jadi kita memberi tanpa memikirkan dampak-dampak apa yang akan muncul untuk si penerima.

Bagi saya pemberi akan lebih courageous, berani, dan bijaksana ketika ia rela dan ikhlas dilihat negatif oleh orang lain tapi yakin penerima bantuan akan mendapatkan hidup yang lebih baik di jakngka panjang, daripada terlihat baik dan tidak pelit tapi menimbulkan ketergantungan, kemalasan, dan justru hidup yang lebih sulit bagi penerima kedepannya.