Ingin anak kuliah di America setelah taun 2030? Berapa yang perlu disiapkan hari ini?

Education Fund

Ayah saya selalu bilang, jangan pernah takut untuk sekolah setinggi mungkin, karena uang bisa habis tapi ilmu gak akan pernah habis. Sekolah adalah salah satu investasi jangka panjang yang paling banyak return of investment nya, baik dari segi keuangan, pengalaman, dan perkembangan kedewasaan.

Sebagai pasangan muda yang sedang menyiapkan kelahiran anak pertama, diantara sekian banyak prioritas yang perlu disiapkan, biaya kuliah anak sering jadi topik paling akhir yang kita pikirkan. Mungkin karena masih beberapa tahun dari sekarang ketika anak berusia 18 tahun. Tapi kalau goal jangka panjang ini diteliti secara menyeluruh, ternyata 18 tahun itu bukan waktu yang panjang untuk menyiapkan biaya kuliah. Terutama kalau ingin anaknya kuliah di universitas di America.

Tentunya tidak semua keluarga ingin atau mampu mengutamakan menyiapkan biaya kuliah anak dari sedini mungkin. Itu semua kembali pada keputusan pasangan masing-masing. Seperti biasa, saya percaya untuk urusan keuangan, tidak ada mana yang paling benar dan paling salah. Yang ada adalah konsekuensi dari setiap keputusan yang kita ambil. Kalau uang kuliah sudah siap, anak bisa fokus pada pendidikan. Tapi anak yang sepenuhnya dibiayai kuliah bisa jadi tidak mendapat pengalaman harus bekerja sambil kuliah. Sebaliknya anak yang harus mencari sendiri biaya kuliahnya mungkin lebih semangat untuk kerja sampingan atau mencari beasiswa. Tapi hal ini bisa jadi mempengaruhi nilai mereka karena harus membagi waktu antara sekolah dan kerja. Jadi tidak ada formula paling tepatnya, tinggal kembali ke jalur mana yang terbaik untuk keluarga dan anak masing-masing.

Hari ini kami belajar tentang berapa biaya yang harus disiapkan kalau orang tua ingin membayar kuliah anak di America. Financial advisor dari tempat saya bekerja memberikan perincian yang sangat-sangat membantu untuk break down goal jangka panjang ini menjadi baby steps yang bisa kami lakukan sekarang. Perlu dicatat ini prediksi dari financial advisor kami, dan bukan saran mutlak. Silahkan dipelajari dan diambil info-nya sesuai kebutuh masing-masing.

Scenario ini adalah untuk anak yang lahir tahun 2017 dan keluarga yang baru mempunyai satu anak. Jadi kalau anak sudah lebih dari satu atau lahir sebelum atau sesudah tahun 2017, perhitungannya akan sedikit berbeda.

Saat ini (tahun 2017), prediksi rata-rata kuliah anak di Amerika (menggabungkan universitas negri dan swasta) sekitar USD $28,000 per tahun. Ini sudah termasuk biaya kuliah dan biaya hidup. Financial advisor kami memprediksi cost inflation rate of 5% antara tahun 2017 sampai 2033 (ketika anak kami 18 tahun).

18 tahun dari sekarang, diprediksi ini adalah biaya kuliah per-tahun anak yang lahir di tahun 2017 untuk ambil S1 selama 4 tahun – semua dalam US dollar:

Tahun 2033 (Semester 1 & 2)= $67,385/tahun

Tahun 2034 (Semester 3 & 4)= $70,755/tahun

Tahun 2035 (Semester 5 & 6)= $74,292/tahun

Tahun 2036 (Semester 7 & 8)= $78,007/tahun

Total Biaya Kuliah S1 selama 4 tahun = $290,439 

Kalau dirubah ke rupiah dengan mata uang hari ini total biaya kuliah anak untuk S1 di America sekitar Rp. 3,891,301,722 atau hampir 4 milyar rupiah di tahun 2033-2036. 

Kalau kami ingin mulai menabung kuliah anak sejak anak lahir, rekomendasinya adalah menyisihkan $7,750/tahun atau sekitar $650/bulan dimulai dari tahun 2017 sampai 2033.

Dan angka diatas tentunya kalau ingin membiayai kuliah anak 100%. Tidak ada keharusannya. Beberapa orang tua membiayai hanya biaya kuliahnya, untuk biaya hidup anak harus cari sendiri. Atau mungkin ada orang tua yang hanya membayar tuition fee per tahun, tapi untuk buku dan tambahan-tambahan lain anak harus mencari beasiswa atau bekerja sendiri.

Namun sebelum mulai memikirkan biaya kuliah anak, ada beberapa prioritas utama yang perlu sudah dicapai, kalau saran dari financial advisor kami:

  • Emergency saving sekitar 3-6 bulan pengeluaran per-bulan. Jangan sampai kita tidak punya emergency saving sehingga meskipun niatnya ingin meringankan beban anak, tapi kalau kitanya sendiri tidak bisa survive ketika ada emergency, nanti malah jadi merepotkan anak, keluarga, atau orang lain.
  • Lunasi cicilan, kecuali cicilan rumah. Jadi kalau masih ada cicilan lainnya (mobil, student loan, atau consumer debt lainnya) segera diselesaikan sebelum mulai tabungan pendidikan anak.
  • Siapkan dana pensiun paling tidak 10% dari pendapatan per-bulan – mulai dari sekarang. Sama dengan point pertama. Kalau dihari tua kita tidak bisa menyiapkan dana pensiun kita, percuma menyiapkan biaya kuliah anak tapi nantinya kita harus bergantung dan merepotkan anak. Kalau anak tidak punya biaya kuliah 100% mereka masih bisa mencari beasiswa, tapi kalau manula tidak punya biaya hari tua, akan susah mencari rezeki ketika sudah usia di atas 65 tahun. Tapi hal ini juga kadang masih menjadi sesuatu yang taboo di budaya timur, jadi silahkan kembali ke philosophy keluarga masing-masing.

Semoga infonya membantu yah. Kalau teman-teman seperti kami, saya sadar betul bahwa topik semacam ini sering meningkatkan kecemasan. Jadi bikin deg-degan apa bisa menyiapkan dana pendidikan. Atau merasa sudah terlambat. Saran saya, tidak ada kata terlambat untuk mencapai kesehatan finansial. Sama seperti kesehatan badan, yang penting kita memulai semampu mungkin mulai dari sekarang.

Cheers!

-AJP-

Kumpulkan memori bukan barang

8933782bdbd1b1f6782fe6c4b15e74cb

Saat ini, budaya hedonism dan materialistik bisa dirasakan hampir di setiap tikungan. Shopping mall ada di mana-mana baik di Jakarta atau di America. Hampir setiap saat ada saja sale-sale yang bermunculan. Kalau di sini mulai dari Labor Day Sale, 4th of July Sale, Memorial Day Sale dan jenis-jenis tawaran lainnya. Perhatikan, kalau kumpul di acara keluarga, sulit rasanya menghindari pembicaraan seputar barang-barang terbaru: sepatu merk tertentu, tas branded yang baru keluar, gadget paling canggih, handphone dengan camera terbagus.

Hal ini saya rasakan lebih lagi setelah kami hamil. Mendadak banyak sekali mendapat saran tentang barang yang HARUS kami siapkan buat si anak bayi ini. Botol susu paling canggih, ayunan bayi paling mahal, stroller paling enteng, mainan yang paling menstimulasi otak, baju bayi paling lucu, dan ratusan jenis-jenis barang lainnya yang harus kami beli. Jujur saja kadang antara memprioritaskan menyiapkan rumah, menyiapkan biaya sekolah dan kuliah anak, menyiapkan dana pensiun, kami sering kehilangan fokus dan napsu ingin menyiapkan barang-barang jangka pendek (baca: perlengkapan bayi) yang paling terbaik (dan mahal) – dan hasilnya mengalahkan tujuan-tujuan jangka panjang yang mutlak jauh lebih penting.

Tapi lalu saya berhenti dan berpikir. Apa sih yang sebenarnya paling dibutuhkan kami calon orang tua dan anak bayi seukuran rata-rata 8 pounds dan 20 inches? Saya langsung sepenuhnya sadar bahwa yang kami butuhkan adalah moments bukan things. Karena 10 tahun dari sekarang, yang akan paling kami ingat bukan jenis botol susu apa yang anak kami pakai, tapi perasaan membawa dia pertama kali ke rumah dari rumah sakit atau perasaan pertama kali kami kerja sama untuk menenangkan si bayi tengah malam.

Selama kehamilan ini, kami berusaha mempraktekan beberapa kebiasaan ini untuk memastikan bahwa kami tidak salah fokus – lebih memperhatikan hal-hal materialistis dibandingkan pengalaman sekali seumur hidup ini.

1. Menyiapkan keperluan dasar bayi sebaik mungkin setelah melakukan research yang cukup

baby_items

Katanya jangan mengumpulkan barang, tapi kok tips pertama langsung tentang membeli barang? Karena memang bayi juga ada keperluaanya, tidak bisa dihindarkan. Mereka perlu tempat untuk tidur, diapers, handuk mandi. Tapi yang perlu hati-hati, diluar sana dan banyak orang yang akan memberi saran apa yang paling “The Best” untuk setiap barang-barang ini. Mulai dari the best stroller of the year sampai the best bedong bayi.

Tentu normal untuk orang tua ingin menyiapkan yang terbaik untuk bayinya. Kalau kung bercandanya “Yah gak apa-apa lah anak pertama dibelikan kereta dorong kencana”. Dan mungkin untuk beberapa barang seperti carseat atau stroller boleh condong ke jenis yang kualitasnya lebih tinggi karena bisa untuk jangka panjang (untuk anak berikutnya). Tapi yang kami pertanyakan, apa memang perlu untuk lap gumoh yang paling the best of the year? Dengan harga yang tentu lebih mahal. Yah mungkin sekarang saya belum jadi orang tua jadi belum tau, tapi kalau saya pikir lebih penting bayi saya punya lap gumoh paling hip taun ini, atau ayah ibu yang sigap ketika anaknya gumoh?

Karena itu, research cukup penting untuk kami. Research barang apa saja yang memang basic necessities dan mana yang optional. Dan tentu list ini juga tentative, untuk beberapa orang tua, mungkin penghangat baby wipes merupakan kebutuhan pokok, tapi untuk orang tua lainnya (dan bayi lainnya) ini barang optional. Berikutnya memikirkan barang mana yang harus beli baru (e.g., carseat) dan mana yang bisa kami terima lungsuran dari teman yang sudah punya anak (e.g., baju bayi). Dengan melakukan riset dengan baik, bisa sangat membantuk menurunkan pengeluaran persiapan bayi yang pada dasarnya sudah cukup tinggi. Dan bisa mengembalikan fokus kita pada hal-hal jangka panjang yang jauh lebih penting seperti sekolah anak dan biaya asuransi jiwa.

2. Kumpulkan moment-moment kecil sehari-hari

19366385_10109992106031350_1728032034951904788_n

Kami sudah mempersiapkan bahwa setelah bayi ini lahir akan ada tenggang waktu dimana kita akan housebound, cuma bisa di rumah saja selama sekitar 4-6 minggu. Menariknya, post-partum depression dan anxiety juga sangat meningkat di waktu-waktu ini. Banyak moment-moment mengejutkan, menegangkan (dan tentunya beberapa juga positif) yang dihadapi orang-tua dan bayi. Dari pasien-pasien yang sudah saya tangani, akan mudah orang tua untuk “melarikan diri” dengan fokus pada hal-hal yang sifatnya lebih ke logistik. Contoh, fokus pada barang-barang yang perlu dibeli, apa yang kurang, apa yang belum kesampaian disiapkan. Ini semua normal dan bisa dipahami – karena memang banyak yang kebutuhan pokok. Tapi yang lebih sulit dipraktekan adalah menjalani, memahami, dan kalau bisa menikmati moment-moment kecil (tapi priceless) yang akan bermunculan.

Research sudah menunjukan bahwa kebahagiaan lebih banyak dipengaruhi oleh pengalaman, oleh moments in life, bukan oleh barang yang kita beli dan kumpulkan. Semenjak saya hamil, saya dan suami berusaha untuk mempraktekan kebiasaan-kebiasan kecil untuk kita bisa mengkoleksi moment sehari-hari yang meningkatkan quality of life kami.

  • Saya mulai (walaupun kadang sering perlu dipaksa) membiasakan saya dan suami punya “Cuddle Time”. Waktu di mana kita unplugged dari TV, laptop, handphone, dan segala elektronik lainnya, dan hanyak membicarakan betapa bersyukurnya kita dalam hidup. Kalau bisa tidak membicarakan masalah-masalah yang ada dan perlu diselesaikan, hanya hal-hal dan rezeki yang sudah kita dapat yang perlu disyukuri. Tidak perlu lama-lama, mungkin sekitar 15-20 menit setiap hari.
  • Jalan sore. Karena saya perlu olah raga juga untuk mempersiapkan melahirkan, saya dan suami membiasakan jalan sore setelah pulang kantor. Hanya di kompleks sekitar rumah saja. Biasanya ketika jalan sore ini, kita mulai membicarakan rencana-rencana jangka panjang, sekolah anak, dana pensiun, mempersiapkan rumah, dan target-target karir kami.
  • Luangkan waktu untuk teman dan keluarga. Saya mulai jauh lebih rutin untuk menelf papa mama saya, kung dan eninya anak kami. Supaya mereka juga involved dalam perkembangan anak kami dari sekarang. Yang lebih saya nikmati lagi, mengumpulkan tips-tips cara membesarkan anak. Karena tentu mereka ahlinya – karena mereka sudah membesarkan saya dan hasilnya tidak gagal-gagal banget kok, hehehe. Kung biasanya yang punya banyak nasihat tentang mengolah keuangan dengan benar, tentang mengajarkan hidup sederhana dan tidak gegabah, tentang values-values yang perlu ditanamkan pada anak sejak sekarang. Eni nya yang selalu mengingatkan tentang agama, tentang cara mengajarkan anak dalam urusan sekolah, tentang cara bersopan santun dan selalu membantu orang lain.

Masih ada praktek-praktek mengumpulkan moments lain yang sering kami lakukan (e.g., memasak bareng, hiking, mengunjungi tempat baru). Dan guess what kalo teman-teman lihat, hampir semuanya tidak memerlukan biaya ekstra sama sekali. Malah kebanyakan gratis 100%.

3. Berbagi pada orang yang lebih membutuhkan 

charities

Ketika sedang mempersiapkan kedatangan anak, wajar kalau orang tua fokus pada keluarga inti. Menomor satukan kebutuhan-kebutuhan dasar si anak. Dan kami sangat bersyukur, sejak saya hamil banyak sekali orang-orang di sekitar yang mulai pesan-pesan “nanti kita yang belikan ini yah” atau bertanya “masih butuh apa lagi?” Tentu kami sangat-sangat menghargai perhatian ini dan bersyukur banyak sekali yang perduli pada si anak bayi.

Tapi akhir-akhir ini saya sering mulai berpikir, ketika anak kami banyak yang memperhatikan, berapa banyak bayi di dunia ini yang tidak mendapatkan rezeki dan perhatian yang sama? Berapa banyak bayi yang tidak mempunyai selimut dan popok yang nyaman ketika lahir? Berapa banyak bayi yang tidak punya orang tua untuk menggendong mereka?

Ketika teman dan keluarga sekitar mulai bertanya, apa yang kami butuhkan, saya pelan-pelan mulai menjelaskan bahwa kami bersyukur yang kami butuhkan kebanyakan sudah ada. Tapi kalau teman-teman dan keluarga punya rezeki tambahan, kami dengan senang hati bisa menyalurkan barang-barang bayi itu ke yayasan atau organisasi yang membantu anak-anak yang kurang beruntung. Benar-benar bukan kami ingin sombong atau menolak pemberian, tapi ada beberapa alasan penting yang ingin kami ajarkan kepada si anak bayi ini:

  • Kami ingin mengajarkan bahwa yang paling penting dia terima dari keluarga dan teman-teman disekitarnya adalah perhatian, kasih sayang, dan waktu. Moments dengan merekalah yang akan dia ingat ketika dia dewasa, bukan barang apa yang mereka beri.
  • Saya tidak ingin mengajarkan ke anak kami bahwa inti dari hubungan dengan orang-orang terdekat adalah mendapatkan perhatian melalui “menerima barang”. Dia akan sudah berkembang di dunia dimana materialisme dan hedonism ada di setiap tempat dan waktu. Sebagai orang tua, kami ingin “mengontrol” bahwa setidaknya dalam hubungan orang terdekat, tidak hanya melulu membicarakan barang-barang terbaik, termahal, dan paling hip.
  • Kami ingin mengajarkan ke si bayi ini dari sedini mungkin untuk melihat ke bawah. Melihat anak-anak lain yang tidak seberuntung dirinya. Dan mulai menanamkan rasa ingin berbagi.

Kenapa? Karena research sudah menunjukan bahwa membantu orang lain yang sedang kesulitan itu berhubungan dengan meningkatnya rasa bahagia, umur panjang, dan kesehatan.

Saran-saran lain dari teman-teman dan orang tua yang sudah jauh lebih berpengalaman untuk mengajarkan anak mengerti hidup sederhana dan apa yang paling penting dalam hidup tentunya sangat-sangat kami butuhkan dan hargai.

Happy Weekend!

-AJP-

Baru Kerja? Mulai pikirkan dana pensiun

12501930_1724088641144117_2144342178_n

Di umur 20- dan 30-an, janggal rasanya untuk mulai memikirkan dan menyiapkan hari tua. Sering umur 65 masih terasa jauh sekali. Baru dapat kerja, mulai hidup mandiri, muncul rasa ingin menikmati hidup sepuas-puasnya. Wajar saja. Kalau kata ayah saya, setiap orang pasti inginnya waktu kecil bahagia, masih muda foya-foya, sudah tua kaya raya.

Tapi di sini saya ingin memulai pembicaraan tentang pentingnya mulai memikirkan dana pensiun sedini mungkin. Ketika kita masih muda. Masih banyak energi untuk berkarir dan mencari rezeki. Untuk kami sendiri, ada beberapa alasan kenapa kami ingin mulai memikirkan pensiun secepat mungkin, diusia kami yang masih produktif.

Tapi tentunya kapasitas orang berbeda-beda untuk mulai tahap ini. Dan untuk saya tidak ada formula paling benar. Banyak orang yang tidak bisa memulai menyiapkan dana pensiun karena tuntutan hidup yang tidak memungkinkan. Tapi sering juga kita tidak menyiapkan karena tidak tahu pentingnya tabungan masa tua atau tidak bisa menahan diri untuk menghambur-hamburkan uang untuk kesenangan jangka pendek.

Ini beberapa alasannya kenapa menurut kami menyiapkan masa tua itu sangat penting:

1.Memberikan lebih banyak pilihan dan kontrol di hari tua

Masa tua itu tidak sepenuhnya menyenangkan. Sering manusia harus melewati hal-hal yang diluar kendalinya di masa tua. Contohnya, manula yang sakit kronis hilang kemampuannya untuk menjalani hidup sehari-hari tanpa rasa sakit. Dan sering kali tidak menyiapkan financial security di masa tua memberikan banyak kecemasan dan rasa hilang kendali untuk hidup kita sendiri. Ada kesamaan antara menyiapkan kesehatan fisik dan kesehatan finansial. Kalau kita ditanya, bagaimana supaya kita bisa hidup sehat dan kuat sampai tua, mungkin jawabannya mulai mengatur pola makan, olah raga, tidak merokok. Dan kebiasaan ini baiknya dimulai dari se-muda mungkin. Karena membutuhkan waktu yang panjang untuk menyiapkan kesehatan fisik yang optimal. Sama juga dengan kesehatan finansial. Beberapa kebiasaan yang perlu dimulai dari muda adalah hidup sederhana (biasakan pengeluaran lebih sedikit dari pemasukan), menabung, dan bertanggung jawab setiap akan mengambil keputusan finansial.

Walaupun mungkin ketika muda kita harus banyak melewatkan hal-hal yang menyenangkan demi menabung (contoh: beli mobil mewah, traveling, beli baju mahal), tapi menyiapkan dana pensiun akan memberikan lebih banyak kontrol dan pilihan ketika kita sudah tua. Mungkin kita jadi punya pilihan untuk pensiun di tempat yang kita idamkan seperti di pinggir pantai atau di pengunungan.

2.Tidak bergantung pada pemerintah – karena pemerintah belum tentu bisa digantungi

Salah satu alasan lainnya adalah supaya kita tidak perlu bergantung pada dana tunjangan dari pemerintah. Terutama untuk para manula di negara berkembang seperti Indonesia, mungkin pemerintah juga belum sanggup untuk memberikan dana bantuan yang optimal untuk para orang tua. Jadi ada baiknya kita membantu pemerintah dengan belajar mandiri dan menyiapkan kebutuhan hari tua kita dari jauh hari. Syukur-syukur pemerintah semakin maju dan bisa menyediakan dana kesehatan dan pensiun bagi manula lebih baik lagi.

3.Tidak merepotkan anak dan keluarga

Sekarang, sebagai calon orang tua, kami semakin sadar pentingnya menyiapkan masa depan untuk anak. Bukan mengharapkan masa depan kami jadi tanggung jawab anak. Saya selalu ingat kata-kata ayah saya, “anak itu bukan investasi. Mereka punya masa depannya sendiri.”

Kalau menarik garis jauh kedepan, saya sudah bisa membayangkan, ketika saya umur 65, anak saya akan berusia 35 tahun. Masa-masa dimana dia baru akan memulai kehidupannya sendiri. Masa itu ia akan mulai memikirkan sekolah anak-anaknya, mungkin menyiapkan rumah, membangun karir, dan menyelesaikan tanggung jawab besar dihidupnya sendiri. Jadi rasanya tidak adil kalo kami juga membebankan kehidupannya di atas semua tanggung jawab lain yang sudah harus ia jalankan.

Itu yang semakin memotivasi kami untuk mulai menyiapkan dana pensiun sedini mungkin. Supaya anak-anak kami nantinya tidak mendapat beban tanggung jawab yang terlalu besar: membesarkan anak mereka sendiri dan merawat orang tuanya.

Perlu dijelaskan bahwa saya bukan ingin mengkritik budaya timur dan ajaran kita tentang pentingnya anak untuk merawat orang tua. Saya rasa itu merupakan sesuatu yang baik, untuk anak selalu ingat pada orang tuanya, selalu memberikan perhatian, menjaga hubungan, dan membantu ketika mampu. Tapi untuk kami, membantu orang tua keputusannya ada ditangan anak, merupakan hak mereka, dan berdasarkan kemampuannya masing-masing. Karena ayah saya pernah bilang, kalau orang tua mewajibkan anak-anaknya untuk mengurus mereka ketika tua, itu namanya hidup mundur ke belakang. Anak kewajibannya membesarkan generasi selanjutnya. Itu baru hidup yang fokus ke depan. Tapi, ketika anak sanggup dan memutuskan untuk merawat orang tuanya di hari tua tentu itu merupakan keputusan yang mulia. Karena social connection adalah salah satu prediksi kebahagian yang paling kuat bagi kebanyakan manusia.

Di tulisan lainnya, saya akan membahas strategi mulai membangun dana pensiun dari muda.

Siap atau belum siap? Faktor-faktor yang dipikirkan sebelum memutuskan punya anak

logo-readyornot-fb

Setelah kami menikah, kami memutuskan untuk menunda punya anak untuk beberapa taun. Hal ini untuk budaya America sesuatu yang cukup biasa. Tapi yang saya rasakan ini masih sesuatu yang belum biasa atau bahkan taboo di budaya Indonesia. Sebenarnya – kalo menurut saya – tidak ada formula sempurnanya untuk kapan pasangan siap memiliki punya anak. Banyak faktor yang mempengaruhi keputusan pasangan seperti agama, keluarga, budaya, finansial, dan kesiapan mental.

Dan menurut saya, apapun dan jangka waktu seperti apa yang dipilih pasangan untuk memiliki anak, itu pasti pilihan terbaik yang sudah mereka pikirkan matang-matang. Yang mau saya bahas disini adalah faktor-faktor apa yang bisa jadi pertimbangan ketika pasangan ingin menunda untuk mempunyai anak. Karena menurut saya hal ini jarang sekali dibicarakan, tapi sering merupakan sebuah faktor yang valid.

Untuk jelasnya, banyak juga pasangan yang meskipun menghadapi alasan di bawah ini tetap bisa dengan sukses merencanakan punya anak dan menjadi orang tua yang optimal. Jadi tentu semuanya kembali lagi ke pasangan masing-masing.

1.Masih ingin menyelesaikan sekolah

Bisa jadi pasangan masih ingin meneruskan sekolahnya, baik S1, S2, atau S3 sehingga memutuskan untuk focus dulu pada pendidikan. Walaupun banyak yang sanggup punya anak sambil sekolah, untuk saya dan suami sendiri kamu memutuskan untuk saya fokus menyelesaikan S3 saya dulu sebelum kita memutuskan punya anak. Untuk kami pribadi, alesannya karena dibidang kesehatan seperti yang saya jalani, saya harus melewati residency training dimana saya tidak bisa memilih ditempatkan di lokasi mana di America. Mungkin kalau di Indonesia banyak dokter-dokter yang harus di tempatkan ke daerah-daerah sebagai syarat pendidikan, sehingga agak sulit (tapi bukan tidak mungkin) kalau harus memboyong anak dan keluarga.

2.Masih ingin membahagiakan orang tua

Mungkin beberapa orang masih ingin fokus untuk membahagiakan orang tua masing-masing sebelum siap memikirkan punya anak. Mumpung orang tua masih sehat, mungkin beberapa ingin membawa orang tua jalan-jalan dulu atau memastikan bahwa bisa ikut membantu biaya pengobatan orang tuanya.

3.Masih ingin mengenal satu sama lain

Masih ingin traveling, belajar lebih dewasa, mengenal kekurangan dan kelebihan masing-masing. Menurut saya ini alasan yang cukup valid. Riset oleh John Gottman menunjukan bahwa anak yang dibesarkan oleh orang tua yang saling menyayangi, yang mempunyai hubungan yang kuat dengan satu sama lain tumbuh menjadi anak yang lebih sukses secara akademis dan lebih tidak bermasalah secara perilaku. Jadi keinginan pasangan untuk menjalin hubungan yang romantis, kuat, saling mendukung selagi menyiapkan punya anak merupakan hal yang sangat penting.

4.Masih menyiapkan keuangan keluarga

Menurut saya ini salah satu alasan yang sering mendapat attack dari lingkungan. Ketika pasangan ditanya, “kapan punya anak?” dan jawab “masih belum siap nih secara keuangan” jawaban yang sering saya dengar adalah “gak boleh gitu, anak sudah membawa rezekinya masing-masing”. Di sini saya tidak ingin berargumen mana yang benar dan mana yang salah. Di satu sisi saya sangat-sangat percaya bahwa anak memang membawa rezekinya masing-masing. Di sisi lain, saya juga yakin bahwa orang tua mempunyai tanggung jawab yang besar untuk menyiapkan financial security sebelum membawa anak ke dunia. Kadang memang ada situasi dimana secara praktis pasangan belum siap. Mungkin kalau punya anak dengan situasi finansial saat ini, pemasukan dan pengeluarannya akan tidak balance. Apakah ada kemungkinan rezeki akan datang? Tentu saja. Tapi tidak semua orang berani untuk langsung mengambil resiko ini. Jadi saya bisa sangat mengerti kalau ada pasangan yang menunda karena merasa belum siap secara finansial.

5.Masih ingin mengembangkan karir

Ini juga alasan yang bisa jadi cukup valid. Mungkin ada beberapa perkerjaan yang menuntut untuk banyak traveling, jam kerja yang kurang family friendly atau alasan lainnya. Tapi karir juga sebuah bagian hidup yang penting untuk banyak orang. Jadi untuk saya sah-sah saja kalau pasangan menunda punya anak karena masih ingin mengembangkan karirnya.

Saya yakin masih ada banyak alasan lain yang tidak saya tuliskan di sini. Dan bisa jadi pasangan juga memutuskan untuk tidak punya anak karena itu bukan tujuan hidup mereka. Tidak ada yang benar atau salah. Setiap orang sudah punya pemikiran masing-masing yang sesuai dengan goals dan values mereka. Menurut saya, tugas kita adalah untuk:

  • Mengerti apa yang sejalan dengan prinsip hidup dan cita-cita kita
  • Tidak menilai buruk pilihan orang lain dan alasannya terutama ketika tidak sama dengan pilihan kita.

Belajar Bahagia Ketika Orang Lain Bahagia

im-so-happy-for-you

Memang benar kalau ingin menambah rasa syukur kita, coba sering lihat orang lain yang sedang kesusahan. Kita akan diingatkan betapa sedikit rezeki yang kita dapat merupakan sebuah berkah. Tapi ada satu pelajaran lain yang menurut saya tidak kalah penting, yaitu kemampuan kita untuk melihat keatas dan bisa mengatasi rasa cemburu, iri, dengki, dan rendah diri yang kadang tiba-tiba muncul.

Jujur saja, saya juga familiar dengan perasaan ini. Ketika melihat orang lain dengan pendidikan lebih tinggi, jabatan lebih bagus, rumah lebih besar, badan lebih langsing, traveling ke tempat yang bagus, anak-anak yang lucu-lucu, kadang sering langsung membandingkan dengan apa yang sudah saya punya. Dan sering otomatis merasa rendah diri atau kurang, atau merasa kesulitan untuk secara tulus merasa bahagia untuk mereka.

Tapi sebagai calon orang tua, saya mulai memikirkan pelajaran apa yang ingin saya ajarkan ke anak kami. Salah satu yang penting adalah melatih dia untuk bisa merasa bahagia ketika orang lain disekitarnya bahagia. Untuk bisa handle kekalahan dengan sportifitas tinggi. Untuk bisa menyelamatkan temannya yang menang. Untuk bisa tidak rendah diri ketika orang lain lebih beruntung.

Bagaimana melatih ikut merasa bahagia ketika orang lain bahagia? Ini beberapa tahap yang menurut saya bisa membantu. Mungkin anda juga punya tips and tricks sendiri.

1. Menyadari perasaan negatif yang mendadak muncul

Awareness is always a start. Menyadari perasaaan negatif apa yang muncul ketika kita melihat orang lain berbahagia. Mungkin teman kita baru beli rumah yang mewah, lalu mendadak muncul rasa iri. Penting untuk kita untuk menyadari proses emosi yang kita miliki ini. Karena kalau kita tidak sadari, kadang emosi negatif menjadi dasar perilaku negatif. Mungkin kita mendadak mengkritik apa yang kurang dari rumah teman kita itu. Atau kita malah membicarakan kekurangan rumah teman kita pada orang lain. Jadi penting sekali untuk menyadari perasaan negatif apa yang suka mendadak muncul. Dengan begitu kita bisa lebih in control dan tidak membiarkan perasaan kita ini mendikte perilaku kita.

2. Sadari kemungkinan adanya proses panjang yang orang lain lewati sebelum mendapatkan kebahagiaannya

Untuk bisa secara tulus merasa bahagia untuk kebahagiaan orang lain, kadang bisa membantu kalau kita mengingat usaha dan pengorbanan apa yang sudah mereka lewati sebelumnya. Misalkan teman kita baru naik jabatan. Lihat betapa susah payah yang sudah dia lakukan untuk mencapai jabatan tersebut. Mungkin hidupnya tidak selalu mudah. Mungkin banyak tantangan-tantangan di pekerjaan yang sudah bisa ia lewati. Dengan begini kita bisa belajar bahwa memang pantas ia mendapatkan kebahagiaannya tersebut.

3. Expresikan rasa bahagia kita secara alami (tidak di buat-buat)

Bagi saya, yang paling penting adalah kemampuan kita untuk mengekspresikan rasa bahagia kita ketika melihat orang lain bahagia. Mungkin bisa dengan bilang “wah selamat yah, kita jadi ikut senang” atau “saya sih gak kaget kamu bisa dipromosi” atau “gila yah, setelah capek-capek kuliah, akhirnya lulus dengan cum-laude, hebat banget deh!” Yang paling penting lagi, tunjukan ekspresi ini dengan tulus, ikhlas dan alami. Body language kita juga harus sejalan dengan isi kata-kata. Karena ketika memberikan selamat dibuat-buat, orang lain pasti akan bisa merasakannya.

4. Moment ini tentang mereka bukan tentang kita

Kadang karena kita merasa rendah diri, iri, dengki, atau perasaan lainnya, sering moment kebahagiaan orang lain kita putar balik jadi moment kita. Bagaimana maksudnya? Kadang mendadak jadi ingin membahas pencapaian kita juga. Misalkan orang tua yang sedang menceritakan keberhasilan anaknya, tiba-tiba orang tua lain langsung mendadak menceritakan betapa anak mereka juga sama hebatnya. Menurut saya habit  yang baik ketika orang lain sedang berbahagia adalah benar-benar menjadikan topik kebahagian orang lain itu sebagai moment penting. Tidak perlu kita steal their spotlight. Nanti akan ada waktunya ketika kebahagiaan kita yang mendapat sorotan.