Pengeluaran Besar yang Sering Menghambat Financial Independence

Ada beberapa pengeluaran BESAR dalam hidup yang menurut saya pribadi salah satu penyebab banyak orang susah mencapai financial independence. Sayangnya, pengeluaran-pengeluaran besar ini sering dianggap sebagai sesuatu “keharusan”. Banyak yang menggunakan alasan “ini kan sekali dalam seumur hidup” atau “saya berhak dapet luxury ini Karena sudah kerja keras”.

Untuk klarifikasi, ini merupakan opini saya pribadi. Setiap orang berhak mengambil jalan hidupnya masing-masing. Rumus saya sih kalau mau menghabiskan uang untuk hal-hal dibawah ini, silahkan saja, asal: (1) Tidak berhutang; (2)Tidak menimbulkan lebih banyak masalah jangka panjang; (3) Sudah memenuhi tanggung jawab pokok. Menariknya, banyak millionaire di America yang juga setuju dengan pendapat saya dan tidak menghabiskan uang untuk hal-hal di bawah ini, termasuk Warren Buffet.

  1. Kawinan

Wedding-Banner

This is honestly my biggest pet peeve. Di satu sisi saya bisa ngerti banyak sekali orang yang sudah menunggu-nunggu hari penting ini. Orang tua juga pastinya ingin bisa mengadakan acara kawinan yang paling baik buat anak-anaknya. Apalagi di Indonesia ada pendapat “Kawinan itu acaranya orang tua, bukan mempelai”. Tapi menurut saya pribadi, ini adalah salah satu pengeluaran yang SANGAT besar yang kadang sering tidak masuk akal.

Di America, biaya kawinan rata-rata berkisar sekitar $35,329. Dan sepertinya di Indonesia pun biayanya tidak jauh-jauh dari itu. Bahkan saya sering dengar kawinan bisa menghabiskan biaya ratusan juta rupiah, bahkan milyaran. Sekali lagi, saya bisa mengerti sekali kenapa kawinan sering di anggap penting – once in a life time moment. Dan ini tentunya hak pribadi masing-masing untuk memutuskan.

Yang saya ingin suguhkan adalah sebuah perspektif kenapa saya pikir menghabiskan biaya kawinan untuk 1 malam dengan alasan ingin menghormati tamu atau orang lain adalah sesuatu keputusan yang sangat beresiko tinggi. Ini alasannya:

  • Kalau kita pakai rata-rata $35,329 harga kawinan, jumlah ini bisa sangat cukup untuk membayar uang muka rumah 3 sampai 4 kamar dengan 2 kamar mandi di America. Biaya acara satu malam bisa digunakan oleh pasangan yang baru memulai hidupnya untuk membayar uang muka rumah – suatu asset jangka panjang yang berarti buat masa depan anak-anak.
  • $35,329 itu sebesar biaya kuliah untuk 1 tahun di America tahun 2016-2017. Bahkan biaya kuliah 1 tahun pun lebih murah sedikit, sekitar $33,480. Bayangkan kalau biaya acara 1 malam dialokasikan untuk membayar biaya pendidikan yang dampaknya jauh lebih untuk jangka panjang dan mungkin bisa memperbaiki hidup beberapa keturunan.
  • Kadang saya sering dengar pasangan muda yang sudah ingin punya anak tapi masih belum siap secara financial. Biaya kawinan satu malam itu sudah jauh dari cukup untuk menyiapkan anak pertama.
  • Coba pergi ke situs ini dan gunakan impact calculator mereka untuk tahu seberapa banyak orang yang bisa kita bantu dengan uang $35,329. Saya coba untuk Project Healthy Children. Dan dengan uang rata-rata kawinan 1 malam itu bisa memberi makanan sehat pada 135,880 anak UNTUK SATU TAHUN PENUH.

 

  1. Mobil Baru

Big-Purchases-Recommendations-

Mobil adalah salah satu asset yang value-nya akan turun. Tidak seperti tanah atau rumah yang bisa naik harganya, mobil hampir 100% akan turun harganya (kecuali mungkin untuk mobil-mobil klasik tertentu). Tapi di sisi lain, mobil juga salah satu status social yang paling didewakan oleh banyak orang. Keliatan sukses gitu kalo udah bisa nyetir mobil merk tertentu. Menurut saya sih sah-sah saja kalau ada yang bercita-cita dan rela mengeluarkan uang untuk membeli mobil mewah. Itu balik ke orangnya masing-masing. Yang ada hanya consequences. Kalau bisa beli mobil mewah dengan cash dan udah zakat, udah beli rumah, pendidikan anak udah keurus, kesehatan udah di cover, menurut saya gak masalah menyenangkan diri. Yang sering jadi masalah adalah beberapa orang membeli mobil yang harganya lebih dari setengah gaji mereka per-tahun. Jadi kalau gajinya sekitar $40,000 per tahun tapi nyetir mobil yang $30,000 dan nyicil, itu yang menurut saya agak jomplang. Warren Buffet saja, salah satu orang terkaya di dunia gak tertarin untuk mengeluarkan uangnya buat mobil mewah.

  1. Tas, sepatu, baju dengan brand tertentu

I'M A SHOPAHOLIC AND CAN'T STOP SPENDING

Point ini yang sepertinya paling sensitive dan kontroversial. Tunjuk tangan kalo pernah pengen banget beli tas, sepatu, atau baju dengan merk ter-tentu. Sampe kebawa-bawa mimpi kalo malem. Saya juga kok, pernah ada masanya ingin beli barang-barang tertentu yang berkaitan dengan fashion. Sama dengan mobil mewah, barang-barang yang kita pakai kebanyakan valuenya akan turun. Tapi menurut saya hal-hal yang berkaitan dengan fashion ini juga ada efek samping lain diluar efek samping rugi financial. Sebagai Psikolog, salah satu kasus yang sering saya hadapi adalah orang-orang yang menderita secara financial dan emotional Karena menggunakan barang-barang fashion ber-merk untuk memberikan kebahagiaan untuk mereka. Pernah dengan shopaholic kan? Ketergantungan membeli barang-barang mewah untuk di pakai. Saya sering perhatikan banyak orang yang tergantung sama brand-brand fashion tertentu, deep down, banyak yang struggling dengan ketidak-bahagiaan. Jadi barang-barang ini fungsinya hampir sama dengan rokok, narkoba, alcohol, dan barang-barang adiktif lainnya.

Tulisan ini mungkin banyak menohok pembaca. Yang ingin saya garis bawahi adalah kalau tiga hal diatas merupakan pengeluaran yang kita pernah lakukan dan hasilnya berdampak buruk untuk keadaan financial kita, be kind to yourself. Karena kita bukan satu-satunya. Kita hidup di dunia dan budaya yang sering menjunjung tinggi gaya hidup mewah-mewahan. Tentu jadi susah untuk hidup beda sendiri.

Dan kalaupun prinsip keuangan kalian berbeda, no problem at all. No judgment. Everyone makes their own choice. Seperti yang saya bilang, tidak ada yang paling benar dan paling salah. Yang ada adalah consequency dari setiap jalan hidup dan keputusan financial yang kita pilih.

Truth or truth: Buka-bukaan masalah keuangan

valentin07

Banyak info di luar sana kalau masalah keuangan adalah faktor utama perceraian. Sebenernya ini rada kurang tepat. Bukan masalah keuangan yang – setelah diteliti – menjadi faktor utama perceraian. Karena banyak pasangan yang hidup dalam keadaan keuangan yang sulit tapi pernikahannya bertahan lama. Yang lebih akurat, dari beberapa research, keributan karena masalah keuangan yang menjadi salah satu faktor signifikan yang menyebabkan perceraian.

Kunci awal dari mengurangi ribut masalah keuangan, saya rasa, adalah keterbukaan TOTAL antara suami dan istri. Dari awal menikah (atau untuk beberapa pasangan bahkan mungkin sebelumnya) ada baiknya pasangan sharing tentang berbagai topik keuangan, mulai dari penghasilan, tabungan, cicilan, tujuan jangka panjang, ketakutan, kebutuhan. Memang sih, ini topik yang bukan paling menyenangkan, bahkan kadang janggal dan bikin tidak nyaman untuk di bahas.

Kalau menurut saya, membicarakan masalah keuangan itu seperti latihan lari. Awalnya, kalau belum sering lari, susaaaahhhh minta ampun. Gak nyaman. Kadang literally bikin sesek napas. Tapi kalau terus dilatih antara pasangan, lama-lama jadi bisa terbiasa, dan bahkan bisa membantu meningkatkan kesehatan financial. Ini beberapa kunci yang kami rasa bisa membantu untuk mengurangi ketegangan saan membicarakan masalah keuangan:

1. Take it slow

Bahas setiap topik satu-satu. Jangan langsung diserbu semuanya. Supaya gak panik dan bikin tambah ribut.

2. Saling mengerti emosi masing-masing

Topik keuangan biasanya sering membawa emosi negatif yang berbeda-beda. Ada yang panik, takut, malu, sedih, atau marah ketika sedang membahas keuangan. Mengerti perasaan apa yang sering muncul di pasangan kita bisa membantu kita untuk lebih mengerti dan sabar.

3. Kalau sampai harus berantem – itu normal 

Kadang karena pasangan pasti ada perbedaannya, mungkin obrolan jadi rada heated. Itu mah biasa. Kalo pasangan ngomongin uang terus gak pernah berantem sama sekali, itu baru luar biasa – condong aneh dan mengkhawatirkan. Jadi kalau sampai ribut, itu gak apa-apa. Yang penting adalah setelah ribut bisa diselesaikan dan ketemu jalan keluarnya. Atau paling nggak bisa menambah pengertian antara satu sama lain.

Jadi topik apa aja yang perlu dibahas? Sebenarnya banyak banget, tapi ini beberapa yang menurut saya topik-topik dasar, paling nggak untuk mulai saling terbuka.

Penghasilan dan Pengeluaran 

Orang tua saya selalu mewanti-wanti, kalau sudah menikah harus sepenuhnya terbuka mengenai masalah keuangan. Penting banget. Supaya tau semua pemasukan benar asalnya. Jadi kalau suami atau istri ada tendensi korupsi, bisa langsung saling mengingatkan. Kalau mendapat hadiah atau bantuan, juga harus saling tau satu sama lain.

Pengeluaran juga sama. Diskusikan semua biaya bulanan atau dadakan. Ibaratnya kalau tangan kanan memberi tangan kiri gak usah tau, tapi istri atau suami perlu tau. Karena pemasukan pengeluaran ini yang biasanya sering jadi topik ribut.

Sisa cicilan 

Semua pinjaman dan hutang juga harus dibeberkan sejujur mungkin. Kalau di America, untuk alasan praktikal, karena setelah nikah, hutang yah dibagi dua. Jadi tanggung jawab suami dan istri. Jadi kalau masih ada pinjaman mobil atau cicilan rumah, kedua-duanya harus tau. Karena hidup gak ada yang tau, kalau satu meninggal lebih awal, akan jatuh sepenuhnya ke tangan pasangannya.

Tabungan dan investasi jangka panjang

Ini sebeneranya paling seru sih untuk dibahas. Karena hubungannya erat dengan poin terakhir. Di sini bisa saling ngayal-ngayal tujuan penting apa yang bisa di capai kalau kita rajin nabung dan investasi. Saya dan suami paling senang lihat universitas-universitas bagus di sini. Sambil ngayal-ngayal anaknya bisa masuk ke Ivy League University (ambisi bapak ibunya banget yaaahh!!). Tapi ini yang memacu kami untuk rajin menabung demi masa depan anak.

Strategi tabungan dan investasi jangka panjang juga harus didiskusikan secara terbuka. Karena investasi kadang ada resikonya masing-masing. Jadi suami dan istri dua-duanya sudah harus siap. Siap investasi berhasil. Tapi juga siap kadang investasi justru turun.

Ketika harus menggunakan tabungan untuk hal-hal emergency atau membeli sesuatu yang besar, juga penting untuk selalu dibicarakan terlebih dahulu. Jangan asal ambil keputusan sendiri.

Tujuan-tujuan masa depan 

Fokus pada tujuan masa depan itu gak selalu gampang. Apalagi kalau ada restaurant baru yang buka atau discount di mall atau baju anak yang lucu-lucu. Tapi semakin sering kita membahas tujuan masa depan, semakin membantu kita untuk fokus mengolah keuangan secara bijak.

Topik-topik yang untuk kami paling memberikan motivasi untuk fokus ke tujuan jangka panjang:

  • Sekolah dan pendidikan anak
  • Bisa hidup mandiri di masa tua tanpa merepotkan anak atau keluarga lainnya
  • Membangun rumah yang (tidak perlu mewah) tapi nyaman dan berkah
  • Memberikan kontribusi balik ke masyarakat dan orang-orang yang membutuhkan

Semoga pelan-pelan kita bisa saling terbuka dan menjalin financial intimacy dengan pasangan kita. Karena ini bukan topik paling mudah, be kind to yourself… be kind to each other. 

Cheers!

-AJP-