Dalam Memberi Ada yang Kita Pertanggung-Jawabkan

charity

Zakat, charity, altruism, memberikan sebagian dari rezeki yang kita dapat merupakan konsep yang dijunjung tinggi di hampir setiap agama dan budaya diseluruh dunia. Ada yang berpendapat wajib membantu orang-orang terdekat seperti keluarga, anak teman. Ada yang bilang lebih baik membantu orang yang paling membutuhkan (e.g., anak di Ethiopia yang kelaparan, dibanding keluarga dekat yang membutuhkan sepatu baru). Banyak philosophy-nya dalam memberi, tapi intinya sama, membantu orang yang lebih susah dari kita adalah sesuatu yang penting dalam prinsip hidup banyak orang di dunia.

Tidak heran kalau membantu sesama juga banyak keuntungan pribadi bagi si pemberi. Research sudah banyak menunjukan keuntungan dari sifat altruistik:

Tapi ada satu pertanyaan yang akhir-akhir ini sering muncul di kepala saya. Bagaimana kalau kebiasaan memberi kita menimbulkan efek samping yang tidak baik bagi penerima? Seperti ketergantungan, menggampangkan, kemalasan, dan meningkatkan gaya hidup si penerima? Beberapa contoh yang cukup saya dengar:

  • Memberi bantuan uang membuat orang jadi malas mencari pekerjaan.
  • Ketika mendapat bantuan uang, malah digunakan untuk membeli barang-barang yang sifatnya bukan kebutuhan pokok seperti tas dan sepatu bermerk atau handphone baru.
  • Menimbulkan emosi negatif bagi penerima – rasa cemas kalau tidak lagi mendapat bantuan kedepannya.

Disini saya jadi berpikir bahwa dalam membantu, ada bagian yang perlu kita pertanggung jawaban. Karena dalam memberi, sikap kita mempengaruhi jalan hidup seseorang, dan menurut saya itu merupakan pertanggung jawaban yang cukup tinggi.

Menurut saya ada dampak-dampak positif yang baik jadi tujuan kita ketika akan membantu orang lain:

1. Bantuan Menyelesaikan Masalah Kebutuhan Pokok

Ini menurut saya cukup penting, kalau orang masih membutuhkan bantuan dalam mencari makan sehari-hari atau kesehatan dasar, tentu masalah itu harus diselesaikan terlebih dahulu. Extreme Poverty adalah contoh kesulitan yang diderita jutaan manusia di dunia ini. Beberapa organisasi fokus untuk membantu orang-orang yang masih belum bisa memenuhi kebutuhan dasarnya. Saya suka mengikuti perkembangan organisasi di situs ini, karena mereka cukup menggunakan scientific methods yang bagus untuk penelitiannya.

2. Bantuan Membawa Solusi Jangka Panjang

Give a man a fish, and you feed him for a day. Teach a man to fish, and you feed him for a lifetime. Pasti sudah banyak yang dengar. Kadang dalam memberi kita sering hanya menyelesaikan masalah jangka pendek. Dengan memberi uang cash, kadang itu hanya menyelesaikan satu masalah tapi tidak menyesaikan inti permasalahan atau solusi jangka panjang. Contohnya, keluarga yang tidak mampu membayar listrik tapi masih tetap membeli barang-barang tidak pokok (e.g., sepatu, tas, baju) dengan merk tertentu datang meminta bantuan untuk membayar listrik. Pilihan kita setidaknya ada dua, memberikan uang cash untuk membayar listrik atau memberikan saran cara mengatur budget atau menurunkan napsu untuk meninggikan gaya hidup. Pilihan ketiga, setuju membantu kalau mereka sudah bisa mengatur pemasukan dan pengeluaran dengan baik. Memang terasa tega dan mungkin dampaknya kita dianggap pelit, tapi saya yakin dalam memberi kita juga bertanggung jawab untuk mendidik!

3. Bantuan Memotivasi Penerima Untuk Mandiri 

Menurut saya ini penting banget. Kalau bantuan membuat si penerima ingin bekerja keras, menyelesaikan masalahnya sendiri kedepannya, dan memperbaiki keadaan finansialnya, berarti yang memberi bantuan sudah sukses tidak hanya untuk meringankan beban hidup si penerima, tapi juga membantu si penerima membangun kembali hidup yang lebih mudah dan bermanfaat. Karena itu saya percaya banget, selain memberi uang, memberi bantuan pendidikan atau pengalaman itu akan sangat banyak manfaat jangka panjangnya. Kalau kata ayah saya, menyekolahkan orang atau memberikan pekerjaan kadang jauh lebih berguna dibandingkan hanya memberi bantuan uang untuk masalah-masalah jangka pendek.

Dan satu hal terakhir yang sering saya pikirkan adalah kadang ketika membantu, kita bisa jadi membuat proses ini “tentang kita” bukan “tentang si penerima”. Contoh, kita memberi karena ingin dilihat baik atau takut dibilang pelit. Jadi kita memberi tanpa memikirkan dampak-dampak apa yang akan muncul untuk si penerima.

Bagi saya pemberi akan lebih courageous, berani, dan bijaksana ketika ia rela dan ikhlas dilihat negatif oleh orang lain tapi yakin penerima bantuan akan mendapatkan hidup yang lebih baik di jakngka panjang, daripada terlihat baik dan tidak pelit tapi menimbulkan ketergantungan, kemalasan, dan justru hidup yang lebih sulit bagi penerima kedepannya.

 

Contentment: Praktek Bersyukur

I_Am_Grateful

Akhir-akhir ini saya sering perhatiin beberapa kebiasaan buruk yang secara gak sadar sering saya dan suami lakukan. Karena sedang menyiapkan banyak hal untuk masa depan, sering banget otak dan pembicaraan kami penuh dengan “apa yang ingin dibeli” atau “apa yang kurang”. Beberapa contoh:

  • Sambil duduk-duduk di apartment yang baru kami tinggali 2 bulan, sudah membicarakan rumah seperti apa yang kami ingin beli.
  • Sambil duduk di restaurant yang baru kita coba, sudah buka Yelp untuk lihat restaurant lain apa yang ingin kita coba.
  • Sambil browsing di handphone atau laptop yang masih bekerja dengan okay, lihat-lihat gadget baru apa yang keluar.
  • Pakai baju yang masih bagus dan belum lama dibeli, sudah jalan di mall lihat-lihat baju baru yang ingin di beli.
  • Sambil nyetir, liat-liat mobil yang nantinya pengen dibeli.

Wow, speaking about discontentment. Saya jadi mikir, apa kebiasaan ini yang ingin kami ajarkan ke anak kami nantinya? Pembicaraan seputar… beli, beli, beli… atau ingin, ingin, ingin?

Saya jadi pelan-pelan memikirkan tentang lawan dari discontentment. Bagaimana caranya merasa cukup? Mensyukuri detik ini. Mensyukuri apa yang sudah kita punya saat ini. Untuk saya sendiri, sepertinya beberapa steps ini bisa membantu untuk lebih bersyukur dan merasa cukup:

Be in the present moment

Mindfulness. Perhatikan dengan terbuka apa yang sudah ada saat ini. Lihat barang-barang yang sudah kita punya. Lihat orang-orang kesayangan yang selalu ada di dekat kita. Lihat lingkungan dan alam yang sudah dengan gratis disediakan untuk kita. Rasakan makanan yang kita dapat hari ini. Perhatikan faktor-faktor kasat mata yang jarang kita perhatikan, seperti kesehatan, kemampuan berpikir, udara. Sering kali otak kita selalu sibuk fokus ke depan, memikirkan apa yang kita ingin punya nantinya. Tapi lupa untuk memperhatikan apa yang sudah ada dan berlimpah hari ini.

Practice gratitude – biasakan bersyukur

Ini bukan konsep baru atau aneh. Hampir setiap agama dan kepercayaan mengajarkan pentingnya bersyukur. Research juga sudah menunjukan kalau kebiasaan bersyukur berhubungan erat dengan well being dan emosi positif. Praktek bersyukur bisa dilakukan dalam hati, sambil dibahas dengan orang terdekat, ketika beribadah, atau ditulis.

Ketika kita ingin sesuatu – praktek memberi

Serakah itu gak muncul tiba-tiba. Biasanya ini faktor dari ketidaksengajaan. Karena kita selalu fokus dengan apa yang kita inginkan. Satu praktek yang bisa jadi antidote dari serakah adalah memberi. Disaat kita sedang napsu-napsunya ingin sesuatu, coba ke homeless shelter atau rumah sakit atau buka website-website charity. Lihat seberapa banyak orang yang jauh lebih membutuhkan bantuan kebutuhan dasar dibanding kita. Mungkin kita sedih dan merasa kekurangan karena tidak mampu membeli tas merk tertentu. Tapi ada jutaan anak yang sedih karena tidak bisa makan tiga kali sehari atau tidak bisa sekolah.

Setelah praktek tiga hal di atas, perhatikan level kebahagiaan 

Saran saya sih jangan main asal percaya aja sama yang saya bilang di atas. Coba di tes dengan pengalaman masing-masing. Apa dampak dari praktek tiga hal di atas pada level kebahagiaan kita? Apakah berkurang, bertambah, atau sama aja?

Kumpulkan memori bukan barang

8933782bdbd1b1f6782fe6c4b15e74cb

Saat ini, budaya hedonism dan materialistik bisa dirasakan hampir di setiap tikungan. Shopping mall ada di mana-mana baik di Jakarta atau di America. Hampir setiap saat ada saja sale-sale yang bermunculan. Kalau di sini mulai dari Labor Day Sale, 4th of July Sale, Memorial Day Sale dan jenis-jenis tawaran lainnya. Perhatikan, kalau kumpul di acara keluarga, sulit rasanya menghindari pembicaraan seputar barang-barang terbaru: sepatu merk tertentu, tas branded yang baru keluar, gadget paling canggih, handphone dengan camera terbagus.

Hal ini saya rasakan lebih lagi setelah kami hamil. Mendadak banyak sekali mendapat saran tentang barang yang HARUS kami siapkan buat si anak bayi ini. Botol susu paling canggih, ayunan bayi paling mahal, stroller paling enteng, mainan yang paling menstimulasi otak, baju bayi paling lucu, dan ratusan jenis-jenis barang lainnya yang harus kami beli. Jujur saja kadang antara memprioritaskan menyiapkan rumah, menyiapkan biaya sekolah dan kuliah anak, menyiapkan dana pensiun, kami sering kehilangan fokus dan napsu ingin menyiapkan barang-barang jangka pendek (baca: perlengkapan bayi) yang paling terbaik (dan mahal) – dan hasilnya mengalahkan tujuan-tujuan jangka panjang yang mutlak jauh lebih penting.

Tapi lalu saya berhenti dan berpikir. Apa sih yang sebenarnya paling dibutuhkan kami calon orang tua dan anak bayi seukuran rata-rata 8 pounds dan 20 inches? Saya langsung sepenuhnya sadar bahwa yang kami butuhkan adalah moments bukan things. Karena 10 tahun dari sekarang, yang akan paling kami ingat bukan jenis botol susu apa yang anak kami pakai, tapi perasaan membawa dia pertama kali ke rumah dari rumah sakit atau perasaan pertama kali kami kerja sama untuk menenangkan si bayi tengah malam.

Selama kehamilan ini, kami berusaha mempraktekan beberapa kebiasaan ini untuk memastikan bahwa kami tidak salah fokus – lebih memperhatikan hal-hal materialistis dibandingkan pengalaman sekali seumur hidup ini.

1. Menyiapkan keperluan dasar bayi sebaik mungkin setelah melakukan research yang cukup

baby_items

Katanya jangan mengumpulkan barang, tapi kok tips pertama langsung tentang membeli barang? Karena memang bayi juga ada keperluaanya, tidak bisa dihindarkan. Mereka perlu tempat untuk tidur, diapers, handuk mandi. Tapi yang perlu hati-hati, diluar sana dan banyak orang yang akan memberi saran apa yang paling “The Best” untuk setiap barang-barang ini. Mulai dari the best stroller of the year sampai the best bedong bayi.

Tentu normal untuk orang tua ingin menyiapkan yang terbaik untuk bayinya. Kalau kung bercandanya “Yah gak apa-apa lah anak pertama dibelikan kereta dorong kencana”. Dan mungkin untuk beberapa barang seperti carseat atau stroller boleh condong ke jenis yang kualitasnya lebih tinggi karena bisa untuk jangka panjang (untuk anak berikutnya). Tapi yang kami pertanyakan, apa memang perlu untuk lap gumoh yang paling the best of the year? Dengan harga yang tentu lebih mahal. Yah mungkin sekarang saya belum jadi orang tua jadi belum tau, tapi kalau saya pikir lebih penting bayi saya punya lap gumoh paling hip taun ini, atau ayah ibu yang sigap ketika anaknya gumoh?

Karena itu, research cukup penting untuk kami. Research barang apa saja yang memang basic necessities dan mana yang optional. Dan tentu list ini juga tentative, untuk beberapa orang tua, mungkin penghangat baby wipes merupakan kebutuhan pokok, tapi untuk orang tua lainnya (dan bayi lainnya) ini barang optional. Berikutnya memikirkan barang mana yang harus beli baru (e.g., carseat) dan mana yang bisa kami terima lungsuran dari teman yang sudah punya anak (e.g., baju bayi). Dengan melakukan riset dengan baik, bisa sangat membantuk menurunkan pengeluaran persiapan bayi yang pada dasarnya sudah cukup tinggi. Dan bisa mengembalikan fokus kita pada hal-hal jangka panjang yang jauh lebih penting seperti sekolah anak dan biaya asuransi jiwa.

2. Kumpulkan moment-moment kecil sehari-hari

19366385_10109992106031350_1728032034951904788_n

Kami sudah mempersiapkan bahwa setelah bayi ini lahir akan ada tenggang waktu dimana kita akan housebound, cuma bisa di rumah saja selama sekitar 4-6 minggu. Menariknya, post-partum depression dan anxiety juga sangat meningkat di waktu-waktu ini. Banyak moment-moment mengejutkan, menegangkan (dan tentunya beberapa juga positif) yang dihadapi orang-tua dan bayi. Dari pasien-pasien yang sudah saya tangani, akan mudah orang tua untuk “melarikan diri” dengan fokus pada hal-hal yang sifatnya lebih ke logistik. Contoh, fokus pada barang-barang yang perlu dibeli, apa yang kurang, apa yang belum kesampaian disiapkan. Ini semua normal dan bisa dipahami – karena memang banyak yang kebutuhan pokok. Tapi yang lebih sulit dipraktekan adalah menjalani, memahami, dan kalau bisa menikmati moment-moment kecil (tapi priceless) yang akan bermunculan.

Research sudah menunjukan bahwa kebahagiaan lebih banyak dipengaruhi oleh pengalaman, oleh moments in life, bukan oleh barang yang kita beli dan kumpulkan. Semenjak saya hamil, saya dan suami berusaha untuk mempraktekan kebiasaan-kebiasan kecil untuk kita bisa mengkoleksi moment sehari-hari yang meningkatkan quality of life kami.

  • Saya mulai (walaupun kadang sering perlu dipaksa) membiasakan saya dan suami punya “Cuddle Time”. Waktu di mana kita unplugged dari TV, laptop, handphone, dan segala elektronik lainnya, dan hanyak membicarakan betapa bersyukurnya kita dalam hidup. Kalau bisa tidak membicarakan masalah-masalah yang ada dan perlu diselesaikan, hanya hal-hal dan rezeki yang sudah kita dapat yang perlu disyukuri. Tidak perlu lama-lama, mungkin sekitar 15-20 menit setiap hari.
  • Jalan sore. Karena saya perlu olah raga juga untuk mempersiapkan melahirkan, saya dan suami membiasakan jalan sore setelah pulang kantor. Hanya di kompleks sekitar rumah saja. Biasanya ketika jalan sore ini, kita mulai membicarakan rencana-rencana jangka panjang, sekolah anak, dana pensiun, mempersiapkan rumah, dan target-target karir kami.
  • Luangkan waktu untuk teman dan keluarga. Saya mulai jauh lebih rutin untuk menelf papa mama saya, kung dan eninya anak kami. Supaya mereka juga involved dalam perkembangan anak kami dari sekarang. Yang lebih saya nikmati lagi, mengumpulkan tips-tips cara membesarkan anak. Karena tentu mereka ahlinya – karena mereka sudah membesarkan saya dan hasilnya tidak gagal-gagal banget kok, hehehe. Kung biasanya yang punya banyak nasihat tentang mengolah keuangan dengan benar, tentang mengajarkan hidup sederhana dan tidak gegabah, tentang values-values yang perlu ditanamkan pada anak sejak sekarang. Eni nya yang selalu mengingatkan tentang agama, tentang cara mengajarkan anak dalam urusan sekolah, tentang cara bersopan santun dan selalu membantu orang lain.

Masih ada praktek-praktek mengumpulkan moments lain yang sering kami lakukan (e.g., memasak bareng, hiking, mengunjungi tempat baru). Dan guess what kalo teman-teman lihat, hampir semuanya tidak memerlukan biaya ekstra sama sekali. Malah kebanyakan gratis 100%.

3. Berbagi pada orang yang lebih membutuhkan 

charities

Ketika sedang mempersiapkan kedatangan anak, wajar kalau orang tua fokus pada keluarga inti. Menomor satukan kebutuhan-kebutuhan dasar si anak. Dan kami sangat bersyukur, sejak saya hamil banyak sekali orang-orang di sekitar yang mulai pesan-pesan “nanti kita yang belikan ini yah” atau bertanya “masih butuh apa lagi?” Tentu kami sangat-sangat menghargai perhatian ini dan bersyukur banyak sekali yang perduli pada si anak bayi.

Tapi akhir-akhir ini saya sering mulai berpikir, ketika anak kami banyak yang memperhatikan, berapa banyak bayi di dunia ini yang tidak mendapatkan rezeki dan perhatian yang sama? Berapa banyak bayi yang tidak mempunyai selimut dan popok yang nyaman ketika lahir? Berapa banyak bayi yang tidak punya orang tua untuk menggendong mereka?

Ketika teman dan keluarga sekitar mulai bertanya, apa yang kami butuhkan, saya pelan-pelan mulai menjelaskan bahwa kami bersyukur yang kami butuhkan kebanyakan sudah ada. Tapi kalau teman-teman dan keluarga punya rezeki tambahan, kami dengan senang hati bisa menyalurkan barang-barang bayi itu ke yayasan atau organisasi yang membantu anak-anak yang kurang beruntung. Benar-benar bukan kami ingin sombong atau menolak pemberian, tapi ada beberapa alasan penting yang ingin kami ajarkan kepada si anak bayi ini:

  • Kami ingin mengajarkan bahwa yang paling penting dia terima dari keluarga dan teman-teman disekitarnya adalah perhatian, kasih sayang, dan waktu. Moments dengan merekalah yang akan dia ingat ketika dia dewasa, bukan barang apa yang mereka beri.
  • Saya tidak ingin mengajarkan ke anak kami bahwa inti dari hubungan dengan orang-orang terdekat adalah mendapatkan perhatian melalui “menerima barang”. Dia akan sudah berkembang di dunia dimana materialisme dan hedonism ada di setiap tempat dan waktu. Sebagai orang tua, kami ingin “mengontrol” bahwa setidaknya dalam hubungan orang terdekat, tidak hanya melulu membicarakan barang-barang terbaik, termahal, dan paling hip.
  • Kami ingin mengajarkan ke si bayi ini dari sedini mungkin untuk melihat ke bawah. Melihat anak-anak lain yang tidak seberuntung dirinya. Dan mulai menanamkan rasa ingin berbagi.

Kenapa? Karena research sudah menunjukan bahwa membantu orang lain yang sedang kesulitan itu berhubungan dengan meningkatnya rasa bahagia, umur panjang, dan kesehatan.

Saran-saran lain dari teman-teman dan orang tua yang sudah jauh lebih berpengalaman untuk mengajarkan anak mengerti hidup sederhana dan apa yang paling penting dalam hidup tentunya sangat-sangat kami butuhkan dan hargai.

Happy Weekend!

-AJP-

Baru Kerja? Mulai pikirkan dana pensiun

12501930_1724088641144117_2144342178_n

Di umur 20- dan 30-an, janggal rasanya untuk mulai memikirkan dan menyiapkan hari tua. Sering umur 65 masih terasa jauh sekali. Baru dapat kerja, mulai hidup mandiri, muncul rasa ingin menikmati hidup sepuas-puasnya. Wajar saja. Kalau kata ayah saya, setiap orang pasti inginnya waktu kecil bahagia, masih muda foya-foya, sudah tua kaya raya.

Tapi di sini saya ingin memulai pembicaraan tentang pentingnya mulai memikirkan dana pensiun sedini mungkin. Ketika kita masih muda. Masih banyak energi untuk berkarir dan mencari rezeki. Untuk kami sendiri, ada beberapa alasan kenapa kami ingin mulai memikirkan pensiun secepat mungkin, diusia kami yang masih produktif.

Tapi tentunya kapasitas orang berbeda-beda untuk mulai tahap ini. Dan untuk saya tidak ada formula paling benar. Banyak orang yang tidak bisa memulai menyiapkan dana pensiun karena tuntutan hidup yang tidak memungkinkan. Tapi sering juga kita tidak menyiapkan karena tidak tahu pentingnya tabungan masa tua atau tidak bisa menahan diri untuk menghambur-hamburkan uang untuk kesenangan jangka pendek.

Ini beberapa alasannya kenapa menurut kami menyiapkan masa tua itu sangat penting:

1.Memberikan lebih banyak pilihan dan kontrol di hari tua

Masa tua itu tidak sepenuhnya menyenangkan. Sering manusia harus melewati hal-hal yang diluar kendalinya di masa tua. Contohnya, manula yang sakit kronis hilang kemampuannya untuk menjalani hidup sehari-hari tanpa rasa sakit. Dan sering kali tidak menyiapkan financial security di masa tua memberikan banyak kecemasan dan rasa hilang kendali untuk hidup kita sendiri. Ada kesamaan antara menyiapkan kesehatan fisik dan kesehatan finansial. Kalau kita ditanya, bagaimana supaya kita bisa hidup sehat dan kuat sampai tua, mungkin jawabannya mulai mengatur pola makan, olah raga, tidak merokok. Dan kebiasaan ini baiknya dimulai dari se-muda mungkin. Karena membutuhkan waktu yang panjang untuk menyiapkan kesehatan fisik yang optimal. Sama juga dengan kesehatan finansial. Beberapa kebiasaan yang perlu dimulai dari muda adalah hidup sederhana (biasakan pengeluaran lebih sedikit dari pemasukan), menabung, dan bertanggung jawab setiap akan mengambil keputusan finansial.

Walaupun mungkin ketika muda kita harus banyak melewatkan hal-hal yang menyenangkan demi menabung (contoh: beli mobil mewah, traveling, beli baju mahal), tapi menyiapkan dana pensiun akan memberikan lebih banyak kontrol dan pilihan ketika kita sudah tua. Mungkin kita jadi punya pilihan untuk pensiun di tempat yang kita idamkan seperti di pinggir pantai atau di pengunungan.

2.Tidak bergantung pada pemerintah – karena pemerintah belum tentu bisa digantungi

Salah satu alasan lainnya adalah supaya kita tidak perlu bergantung pada dana tunjangan dari pemerintah. Terutama untuk para manula di negara berkembang seperti Indonesia, mungkin pemerintah juga belum sanggup untuk memberikan dana bantuan yang optimal untuk para orang tua. Jadi ada baiknya kita membantu pemerintah dengan belajar mandiri dan menyiapkan kebutuhan hari tua kita dari jauh hari. Syukur-syukur pemerintah semakin maju dan bisa menyediakan dana kesehatan dan pensiun bagi manula lebih baik lagi.

3.Tidak merepotkan anak dan keluarga

Sekarang, sebagai calon orang tua, kami semakin sadar pentingnya menyiapkan masa depan untuk anak. Bukan mengharapkan masa depan kami jadi tanggung jawab anak. Saya selalu ingat kata-kata ayah saya, “anak itu bukan investasi. Mereka punya masa depannya sendiri.”

Kalau menarik garis jauh kedepan, saya sudah bisa membayangkan, ketika saya umur 65, anak saya akan berusia 35 tahun. Masa-masa dimana dia baru akan memulai kehidupannya sendiri. Masa itu ia akan mulai memikirkan sekolah anak-anaknya, mungkin menyiapkan rumah, membangun karir, dan menyelesaikan tanggung jawab besar dihidupnya sendiri. Jadi rasanya tidak adil kalo kami juga membebankan kehidupannya di atas semua tanggung jawab lain yang sudah harus ia jalankan.

Itu yang semakin memotivasi kami untuk mulai menyiapkan dana pensiun sedini mungkin. Supaya anak-anak kami nantinya tidak mendapat beban tanggung jawab yang terlalu besar: membesarkan anak mereka sendiri dan merawat orang tuanya.

Perlu dijelaskan bahwa saya bukan ingin mengkritik budaya timur dan ajaran kita tentang pentingnya anak untuk merawat orang tua. Saya rasa itu merupakan sesuatu yang baik, untuk anak selalu ingat pada orang tuanya, selalu memberikan perhatian, menjaga hubungan, dan membantu ketika mampu. Tapi untuk kami, membantu orang tua keputusannya ada ditangan anak, merupakan hak mereka, dan berdasarkan kemampuannya masing-masing. Karena ayah saya pernah bilang, kalau orang tua mewajibkan anak-anaknya untuk mengurus mereka ketika tua, itu namanya hidup mundur ke belakang. Anak kewajibannya membesarkan generasi selanjutnya. Itu baru hidup yang fokus ke depan. Tapi, ketika anak sanggup dan memutuskan untuk merawat orang tuanya di hari tua tentu itu merupakan keputusan yang mulia. Karena social connection adalah salah satu prediksi kebahagian yang paling kuat bagi kebanyakan manusia.

Di tulisan lainnya, saya akan membahas strategi mulai membangun dana pensiun dari muda.

Belajar Bahagia Ketika Orang Lain Bahagia

im-so-happy-for-you

Memang benar kalau ingin menambah rasa syukur kita, coba sering lihat orang lain yang sedang kesusahan. Kita akan diingatkan betapa sedikit rezeki yang kita dapat merupakan sebuah berkah. Tapi ada satu pelajaran lain yang menurut saya tidak kalah penting, yaitu kemampuan kita untuk melihat keatas dan bisa mengatasi rasa cemburu, iri, dengki, dan rendah diri yang kadang tiba-tiba muncul.

Jujur saja, saya juga familiar dengan perasaan ini. Ketika melihat orang lain dengan pendidikan lebih tinggi, jabatan lebih bagus, rumah lebih besar, badan lebih langsing, traveling ke tempat yang bagus, anak-anak yang lucu-lucu, kadang sering langsung membandingkan dengan apa yang sudah saya punya. Dan sering otomatis merasa rendah diri atau kurang, atau merasa kesulitan untuk secara tulus merasa bahagia untuk mereka.

Tapi sebagai calon orang tua, saya mulai memikirkan pelajaran apa yang ingin saya ajarkan ke anak kami. Salah satu yang penting adalah melatih dia untuk bisa merasa bahagia ketika orang lain disekitarnya bahagia. Untuk bisa handle kekalahan dengan sportifitas tinggi. Untuk bisa menyelamatkan temannya yang menang. Untuk bisa tidak rendah diri ketika orang lain lebih beruntung.

Bagaimana melatih ikut merasa bahagia ketika orang lain bahagia? Ini beberapa tahap yang menurut saya bisa membantu. Mungkin anda juga punya tips and tricks sendiri.

1. Menyadari perasaan negatif yang mendadak muncul

Awareness is always a start. Menyadari perasaaan negatif apa yang muncul ketika kita melihat orang lain berbahagia. Mungkin teman kita baru beli rumah yang mewah, lalu mendadak muncul rasa iri. Penting untuk kita untuk menyadari proses emosi yang kita miliki ini. Karena kalau kita tidak sadari, kadang emosi negatif menjadi dasar perilaku negatif. Mungkin kita mendadak mengkritik apa yang kurang dari rumah teman kita itu. Atau kita malah membicarakan kekurangan rumah teman kita pada orang lain. Jadi penting sekali untuk menyadari perasaan negatif apa yang suka mendadak muncul. Dengan begitu kita bisa lebih in control dan tidak membiarkan perasaan kita ini mendikte perilaku kita.

2. Sadari kemungkinan adanya proses panjang yang orang lain lewati sebelum mendapatkan kebahagiaannya

Untuk bisa secara tulus merasa bahagia untuk kebahagiaan orang lain, kadang bisa membantu kalau kita mengingat usaha dan pengorbanan apa yang sudah mereka lewati sebelumnya. Misalkan teman kita baru naik jabatan. Lihat betapa susah payah yang sudah dia lakukan untuk mencapai jabatan tersebut. Mungkin hidupnya tidak selalu mudah. Mungkin banyak tantangan-tantangan di pekerjaan yang sudah bisa ia lewati. Dengan begini kita bisa belajar bahwa memang pantas ia mendapatkan kebahagiaannya tersebut.

3. Expresikan rasa bahagia kita secara alami (tidak di buat-buat)

Bagi saya, yang paling penting adalah kemampuan kita untuk mengekspresikan rasa bahagia kita ketika melihat orang lain bahagia. Mungkin bisa dengan bilang “wah selamat yah, kita jadi ikut senang” atau “saya sih gak kaget kamu bisa dipromosi” atau “gila yah, setelah capek-capek kuliah, akhirnya lulus dengan cum-laude, hebat banget deh!” Yang paling penting lagi, tunjukan ekspresi ini dengan tulus, ikhlas dan alami. Body language kita juga harus sejalan dengan isi kata-kata. Karena ketika memberikan selamat dibuat-buat, orang lain pasti akan bisa merasakannya.

4. Moment ini tentang mereka bukan tentang kita

Kadang karena kita merasa rendah diri, iri, dengki, atau perasaan lainnya, sering moment kebahagiaan orang lain kita putar balik jadi moment kita. Bagaimana maksudnya? Kadang mendadak jadi ingin membahas pencapaian kita juga. Misalkan orang tua yang sedang menceritakan keberhasilan anaknya, tiba-tiba orang tua lain langsung mendadak menceritakan betapa anak mereka juga sama hebatnya. Menurut saya habit  yang baik ketika orang lain sedang berbahagia adalah benar-benar menjadikan topik kebahagian orang lain itu sebagai moment penting. Tidak perlu kita steal their spotlight. Nanti akan ada waktunya ketika kebahagiaan kita yang mendapat sorotan.